Rabu, 27 Februari 2013

( Cerpen ) Karma adalah Nyata


Terasa hening malam itu. Gelap semakin membuatku hanyut ke dalam kesedihan. Pikiranku melayang melintasi waktu. Semua kenangan kembali teringat hingga akhirnya terhenti pada satu wajah, satu nama, Bela.
Bela adalah wanita yg sangat kucintai. Wanita yang selalu aku banggakan. Wanita yang selalu membuatku merasa sempurna. Dia mampu membuatku melakukan apapun yang dia mau. Mungkin jika ada pilihan dalam hidupku, apakah harus memilih Bela atau keluargaku, aku pasti memilih Bela. Aku tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Cinta benar-benar membuatku buta dan gila. Ternyata kebutaan cintaku padanya membuat petaka pada diriku.
Aku dan Bela telah menjalin cinta sejak kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa sekarang aku sudah duduk dibangku kuliah. Mungkin jika dihitung, hubungan kami sudah memasuki tahun ke-3. Dari awal kami menjalani hubungan pacaran, hubungan kami berjalan baik-baik saja walaupun kadang diwarnai oleh pertengkaran. Tapi hal itu tidak mampu merusak hubungan kami. Banyak orang bilang kalau pertengkaran itu adalah bumbu percintaan. Jadi kalau didalam percintaan tidak ada pertengkaran, hubungan itu akan terasa hambar dan aku setuju dengan pernyataan itu. Biasanya, setelah kami bertengkar, kami selalu saling merindukan. Tapi apa mungkin harus selalu bertengkar dahulu agar sama-sama merindukan? Banyak teman-temanku yang mendukung hubungan kami berdua. Aku sangat senang dan bahagia menjalani hubungan dengannya. Sampai pada akhirnya aku merasakan keganjilan dalam hubunganku.
Akhir-akhir itu, aku merasa bahwa ada perubahan sikap dari Bela. Aku tak pernah tahu apa yang sedang terjadi dengannya. Aku selalu bertanya padanya, “ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?” tapi dia selalu bilang, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang sibuk dengan kerjaanku.” Ya, sekarang dia sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di ibu kota. Aku percaya, selalu percaya apa yang dia katakan. Hingga akhirnya aku mengalah dan tidak mengikuti ego ku.
Semakin hari semakin aneh sikapnya. Tapi dia tetap pada alasan pertamanya, yaitu urusan pekerjaan. Selang beberapa hari, dia mengirimkan pesan melalui handphone, “kalo kita akhiri hubungan kita ini bagaimana?” Aku terdiam. Berkataku di dalam hati, “Apa ini nyata? Apakah ini bukan mimpi?” Kemudian kubalas pesannya dan aku katakan aku tak ingin mengakhiri hubungan itu apapun yang terjadi. “Apa dia lupa dengan janjinya? Apa dia lupa dengan sumpahnya? Ada apa ini” kataku dalam hati. Ingin aku teriak sekencang-kencangnya dan berharap itu hanya candaan yang diberikan olehnya. Tapi apa boleh buat, itu semua adalah kenyataan dan aku tidak mampu menolaknya. Dia memberikan alasan, bahwa mengakhiri hubungan itu adalah karena ketidakrestuan oleh kedua orang tuanya. Aku semakin bingung, bagaimana mungkin hubungan ini bisa tidak direstui? Sedangkan aku menjalani hubungan ini secara sembunyi dari orang tua dan keluarganya? Aku masih berpegang teguh pada keputusanku, bahwa aku tidak akan mau mengakhiri hubungan itu apapun yang terjadi. Tetapi dia memaksa, sangat memaksa. Dia memberikan bermacam-macam alasan untuk bisa mengakhiri hubungan itu. Akhirnya aku mengalah dan aku setuju untuk mengakhiri hubungan itu. Aku yakin semua alasan yang diberikannya itu tak sama dengan kenyataannya. Yang aku yakinkan adalah dia sudah tak lagi mencintaiku seperti yang dulu. Itu adalah asalan yang tepat. Berakhirlah hubungan yang sudah aku jalani selama tiga tahun itu.
Beberapa minggu kemudian aku mendapat kabar dari salah seorang temanku. Dia mengatakan bahwa Bela sudah memiliki kekasih yang baru. Dia juga katakan bahwa sebelum hubunganku degan Bela berakhir, Bela sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Setelah mendapat kabar itu, hatiku bagai tersayat pedang. Sakit, perih dan tak mampu menahan apa yang sedang kurasakan. Aku ingin menangis tapi aku tak mampu. Aku ingin berkata kasar, tapi untuk apa karena itu tidak akan merubah apa yang telah terjadi. Aku diam dan menerima kenyataan itu. Ternyata apa yang aku yakinkan kemarin itu benar. Semua alasan yang diberikannya tak sesuai dengan kenyataannya. Orang ketiga memang musuh yang nyata dalam sebuah hubungan percintaan. Aku sangat hancur. Aku tak mampu lakukan apa-apa. Semua yang aku kerjakan berantakan. Konsentrasi dan fokusku hilang. Ini benar-benar terjadi dan aku merasakan sakit yang luar biasa. Tapi rasa sakit itu biar aku yang rasakan sendiri.
Aku selalu berdoa untuknya, semoga apa yang telah dia lakukan padaku ini tidak akan pernah dia lakukan lagi. Biar aku yang rasakan sakitnya, biar aku yang menanggung resikonya. Semoga dia selalu bahagia dengan pilihan hidupnya. Ini adalah konsekuensi, ketika aku sangat mencintai maka aku harus siap untuk sangat tersakiti. Terima kasih Bela, kamu sudah membuatku lebih mengerti apa itu cinta. Kamu bisa bermain dengan dramamu, tapi kamu tidak bisa bermain dengan karmamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar