Terasa hening
malam itu. Gelap semakin membuatku hanyut ke dalam kesedihan. Pikiranku
melayang melintasi waktu. Semua kenangan kembali teringat hingga akhirnya
terhenti pada satu wajah, satu nama, Bela.
Bela adalah
wanita yg sangat kucintai. Wanita yang selalu aku banggakan. Wanita yang selalu
membuatku merasa sempurna. Dia mampu membuatku melakukan apapun yang dia mau.
Mungkin jika ada pilihan dalam hidupku, apakah harus memilih Bela atau
keluargaku, aku pasti memilih Bela. Aku tak tahu mengapa itu bisa terjadi.
Cinta benar-benar membuatku buta dan gila. Ternyata kebutaan cintaku padanya
membuat petaka pada diriku.
Aku dan Bela
telah menjalin cinta sejak kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak
terasa sekarang aku sudah duduk dibangku kuliah. Mungkin jika dihitung,
hubungan kami sudah memasuki tahun ke-3. Dari awal kami menjalani hubungan
pacaran, hubungan kami berjalan baik-baik saja walaupun kadang diwarnai oleh
pertengkaran. Tapi hal itu tidak mampu merusak hubungan kami. Banyak orang
bilang kalau pertengkaran itu adalah bumbu percintaan. Jadi kalau didalam
percintaan tidak ada pertengkaran, hubungan itu akan terasa hambar dan aku
setuju dengan pernyataan itu. Biasanya, setelah kami bertengkar, kami selalu
saling merindukan. Tapi apa mungkin harus selalu bertengkar dahulu agar
sama-sama merindukan? Banyak teman-temanku yang mendukung hubungan kami berdua.
Aku sangat senang dan bahagia menjalani hubungan dengannya. Sampai pada
akhirnya aku merasakan keganjilan dalam hubunganku.
Akhir-akhir itu,
aku merasa bahwa ada perubahan sikap dari Bela. Aku tak pernah tahu apa yang
sedang terjadi dengannya. Aku selalu bertanya padanya, “ada apa? Apa aku
melakukan kesalahan?” tapi dia selalu bilang, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya
sedang sibuk dengan kerjaanku.” Ya, sekarang dia sudah bekerja disalah satu
perusahaan besar di ibu kota. Aku percaya, selalu percaya apa yang dia katakan.
Hingga akhirnya aku mengalah dan tidak mengikuti ego ku.
Semakin hari
semakin aneh sikapnya. Tapi dia tetap pada alasan pertamanya, yaitu urusan
pekerjaan. Selang beberapa hari, dia mengirimkan pesan melalui handphone, “kalo
kita akhiri hubungan kita ini bagaimana?” Aku terdiam. Berkataku di dalam hati,
“Apa ini nyata? Apakah ini bukan mimpi?” Kemudian kubalas pesannya dan aku
katakan aku tak ingin mengakhiri hubungan itu apapun yang terjadi. “Apa dia
lupa dengan janjinya? Apa dia lupa dengan sumpahnya? Ada apa ini” kataku dalam
hati. Ingin aku teriak sekencang-kencangnya dan berharap itu hanya candaan yang
diberikan olehnya. Tapi apa boleh buat, itu semua adalah kenyataan dan aku
tidak mampu menolaknya. Dia memberikan alasan, bahwa mengakhiri hubungan itu
adalah karena ketidakrestuan oleh kedua orang tuanya. Aku semakin bingung,
bagaimana mungkin hubungan ini bisa tidak direstui? Sedangkan aku menjalani
hubungan ini secara sembunyi dari orang tua dan keluarganya? Aku masih
berpegang teguh pada keputusanku, bahwa aku tidak akan mau mengakhiri hubungan
itu apapun yang terjadi. Tetapi dia memaksa, sangat memaksa. Dia memberikan bermacam-macam
alasan untuk bisa mengakhiri hubungan itu. Akhirnya aku mengalah dan aku setuju
untuk mengakhiri hubungan itu. Aku yakin semua alasan yang diberikannya itu tak
sama dengan kenyataannya. Yang aku yakinkan adalah dia sudah tak lagi
mencintaiku seperti yang dulu. Itu adalah asalan yang tepat. Berakhirlah hubungan
yang sudah aku jalani selama tiga tahun itu.
Beberapa minggu
kemudian aku mendapat kabar dari salah seorang temanku. Dia mengatakan bahwa
Bela sudah memiliki kekasih yang baru. Dia juga katakan bahwa sebelum
hubunganku degan Bela berakhir, Bela sudah menjalin hubungan dengan lelaki
lain. Setelah mendapat kabar itu, hatiku bagai tersayat pedang. Sakit, perih
dan tak mampu menahan apa yang sedang kurasakan. Aku ingin menangis tapi aku
tak mampu. Aku ingin berkata kasar, tapi untuk apa karena itu tidak akan
merubah apa yang telah terjadi. Aku diam dan menerima kenyataan itu. Ternyata apa
yang aku yakinkan kemarin itu benar. Semua alasan yang diberikannya tak sesuai
dengan kenyataannya. Orang ketiga memang musuh yang nyata dalam sebuah hubungan
percintaan. Aku sangat hancur. Aku tak mampu lakukan apa-apa. Semua yang aku
kerjakan berantakan. Konsentrasi dan fokusku hilang. Ini benar-benar terjadi
dan aku merasakan sakit yang luar biasa. Tapi rasa sakit itu biar aku yang
rasakan sendiri.
Aku selalu berdoa
untuknya, semoga apa yang telah dia lakukan padaku ini tidak akan pernah dia
lakukan lagi. Biar aku yang rasakan sakitnya, biar aku yang menanggung
resikonya. Semoga dia selalu bahagia dengan pilihan hidupnya. Ini adalah
konsekuensi, ketika aku sangat mencintai maka aku harus siap untuk sangat
tersakiti. Terima kasih Bela, kamu sudah membuatku lebih mengerti apa itu
cinta. Kamu bisa bermain dengan dramamu, tapi kamu tidak bisa bermain dengan
karmamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar