Kamis, 28 Februari 2013

( Cerpen ) Siapa yang Lebih Sampah?

Aku mungkin hanyalah sampah bagimu. Tapi mungkin kata sampah itu lebih tepat untukmu. Mungkin jika di ibaratkan, aku adalah bunga dan kau lebah. Setelah kau habis menghisap manisku, kau meninggalkanku tanpa memperdulikan betapa pentingnya aku untuk hidupmu. Tapi bunga tidak pernah kecewa dan sedih, atau bahkan balas dendam. Walaupun dia selalu diperlakukan seperti itu, bunga tetap tersenyum, tetap tertawa dan tetep hidup menjalani hari-harinya bersama mentari. Bunga yakin setelah manis itu dihisap habis oleh lebah, manis itu akan kembali ada dan terus-menerus ada sampai akhirnya dia mati. Dan aku ingin seperti bunga itu.
Ingatkah kau pada saat itu?! Ketika kau memohon, merengek bagai anak kecil yang menginkan balon?! "Tolong bantu aku. Aku ingin bekerja disana. Ini demi keluarga dan adik-adikku. Aku mohon bantu aku." Ingatkah kau dengan kalimat bangsat itu?! Dengan susah payah aku berusaha menolongmu semampu dan sebisaku agar kau bisa bekerja disana. Ingatkah kau bangsat?! Saat aku sakit, kau menelponku, lalu kembali memohon dan merengek untuk kembali menolongmu. Apa kau tau aku sedang sakit?! Apa kau perduli saat aku sakit?! TIDAK! Kau tetap memaksaku untuk membantu hingga akhirnya aku berjalan dalam keadaan sakit. Memaksakan diri untuk tetap menolongmu. Terpaksa melawan orang tuaku yang melarangku untuk pergi dalam keadaan sakit. Apa kau tau itu bangsat?! Aku tau, aku memang tidak bisa membantumu secara materi, karena aku sadar aku adalah orang miskin yang tidak mampu. Tapi apa semua itu masih kurang dimatamu?! Lalu apa yang kau inginkan dariku?! Hanya ingin memanfaatkanku sebelum bekerja, dan meninggalkanku setelah bekerja?! Sungguh mulia sekali tujuanmu masuk kedalam hidupku. Lalu kemana janji yang dulu kau berikan kepadaku?! Lalu kemana sumpah yang dulu kau ucap kepadaku?! Kau lupa?! Atau jangan-jangan kau idiot pura-pura lupa?! Kau harus ingat, dulu kau siapa?! Hanya seorang gadis yang sedang memerankan drama kemunafikan!
Sekarang, kau sudah bekerja di perusahaan yang kau mau. Kau senang? Kau bahagia? Ya, perasaan itu pasti sedang berbunga-bunga dihatimu. Lalu agar lebih berbunga-bunga lagi, kau pergi meninggalkanku dengan alasan "ORANG TUA". Kau pikir aku percaya?! Kau pikir aku tidak tahu?! Aku selalu tau apa yang kau lakukan dibelakangku selama ini. Aku diam bukan karena aku sabar. Aku diam agar kau sadar. Tapi perlakuanku itu salah. Aku lupa kalau kau adalah orang yang tak tau diri, bodo amat, peduli setan, tidak bisa intropeksi diri. Ternyata terbukti, kalau alasan orang tua itu hanya pengalihan agar aku mau melepaskanmu. Dan ternyata benar, alasan yang lebih tepatnya adalah "ORANG KETIGA". Hahaha, lalu siapa yang bangsat disini?! Siapa yang sampah disini?! Siapa yang hina disini?! Biarkan orang-orang yang membaca cerita ini yang menjawabnya. Aku tau dia lebih kaya dariku. Dia mungkin bisa memberikan apa yang kau mau, tidak seperti aku yang hanya mampu katakan, "Nanti dulu ya." Kau memang benar-benar baik sekali dalam memerankan drama kemunafikanmu. Karena itu pilihanmu, aku bisa apa? Aku sadar diri. Aku tau diri. Jadi untuk apa lagi aku mengejar-ngejarmu dan memohon agar kau kembali lagi padaku?! Jika aku ingin mengahancurkan hidupmu, aku bisa lakukan itu dengan mudah! Tapi aku masih berbaik hati, memikirkan nasibmu dan keluargamu. Dan yang aku takutkan adalah kau akan kembali lagi merengek, menangis dan memohon-mohon lagi kepadaku. Mungkin jika kau lakukan itu (lagi), aku akan meludahi wajahmu!
Aku tidak butuh pamrih atau imbalan darimu, akan hanya butuh kata "terima kasih." Apa kau pernah katakan itu setelah kau bekerja disana?! Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadamu. Semoga kau bisa bahagia dengan pekerjaanmu dan pilihan hidupmu. Dan semoga kau bisa bertaubat dahulu sebelum kau MATI, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar