Ketika semua teman menatap haru
tubuhku, riuhan tangis kesedihan selimuti ruangan, dan kurasakan genggaman
lembut tangan ibuku. Aku bisa rasakan semua itu. Ku teriak sekencang-kencangnya,
tapi tak ada satupun diantara mereka yang menanggapi teriakanku. Aku menangis.
Aku terdiam. Dan ku tenangkan hatiku. Lalu ku pejamkan mata. Ku coba mengingat
apa yang terjadi denganku. Hingga akhirnya, aku mengingat semua yang terjadi.
Hari
itu, pukul 22.00, kekasihku mengirim pesan yang mendadak, “Sayang, malem ini aku
pulang. Nanti jemput aku ya di terminal.” Jarak rumahku menuju terminal cukup
jauh, lalu ku balas pesannya, “Iya, aku sampe disana satu jam lagi ya.” Tapi
dia bilang, “Aku gak mau nunggu lama-lama. Pokoknya setengah jam lagi kamu
harus udah sampe terminal.” Karena aku tak mau membuatnya kecewa, aku katakan,
“Iya.” Kemudian langsung ku pakai helm, nyalakan motor dan langsung ku tancap
gas menuju terminal. Sepanjang perjalanan kurasakan handphone ku bergetar dan
sepertinya itu pesan darinya. Tapi aku tak hiraukan karena aku sedang
mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
Setelah
sampai di terminal, ku ambil handphone dan kulihat kekasihku mengirim pesan dan
berkata, “Kamu lama!!!” Ketika ingin ku balas pesannya, tapi apa yang terjadi?
Aku melihat kekasihku mendapati tumpangan mobil dengan seorang lelaki yang
sepertinya ku kenal. Setalah ku perhatikan, ternyata lelaki itu adalah mantan
kekasihnya. Saat ku nyalakan motor dan ingin menghampirinya, mereka langsung
pergi. Ketika ku coba telepon kekasihku, handphone nya tidak aktif. Lalu aku
berinisiatif untuk meninggalkan sebuah pesan. “Maaf, aku telat jemput kamu.
Asal kamu tau, aku udah berusaha mengendarai motor dengan cepat. Tapi kecepatan
motorku tetep gak akan seimbang dengan kecepatan mobil yang kamu tumpangi. Aku
udah liat semuanya. Aku kecewa dan bener-bener gak bisa percaya. Dimana
kesabaran kamu?! Kenapa semudah itu kamu nyuruh aku jemput tapi kamu malah
pulang dengan cowo lain?! Karena kamu kelamaan nunggu?! Aku cuma telat beberapa
menit! Yaudahlah lupain aja. Ini emang salah aku kok. Lain kali aku bakal lebih
cepet lagi kalo mau jemput kamu.”
Aku terdiam dan tak percaya
dengan apa yang kulihat tadi. Rasanya aku ingin menangis dan teriak untuk
meredakan emosiku. Tapi apa daya aku tak kuasa menahannya. Hingga akhirnya aku
pulang dan mengendarai sepeda motorku dengan sekencang-kencangnya. Sepanjang
perjalanan, aku selalu terbayang kejadian yang tadi kulihat. Semakin ku ingat,
semakin terasa sakit yang kurasakan. Konsentrasi ku dalam mengendarai motor pun
buyar hingga akhirnya aku menabrak pembatas jalan. Aku terlempar jauh dari
motorku. Helm yang kupakai hancur dan terlepas dari kepalaku. Kurasakan
benturan yang keras di kepala, tangan dan kaki ku. Setelah beberapa detik
terlempar, aku merasakan kesakitan yang luar biasa disekujur tubuhku. Disaat
seperti itu, aku masih memikirkan kekasihku. “Sayang, aku kangeeeen banget sama
kamu. Tapi kenapa kamu tega ngecewain dan ngancurin perasaan aku dengan cara
kaya gini? Aku gak yakin masih bisa ngeliat muka kamu, senyum kamu, denger
suara kamu, ketawa kamu dan ngerasain pelukan kamu lagi. Maafin aku ya kalo aku
belum bisa bahagiain kamu selama ini. Sayang aku ke kamu gak akan hilang
walaupun kamu udah ngelakuin kesalahan itu. Aku sayang kamu.” Orang-orang yang
melihat kejadian itu langsung mencoba menolongku dan melarikanku kerumah sakit.
Lalu aku tak sadarkan diri. Sepertinya roh ku ingin segera melepaskan diri dari
tubuhku. Aku menahannya tapi aku tak mampu melawannya. Dan akhirnya tepisahlah
roh ku dengan tubuhku. Ku hampiri kekasihku dan berkata di sampingnya sambil
menatap tubuhku yang terbaring. “Sayang, aku disini. Kamu jangan nangis. Kamu
harus kuat dan harus relain aku. Kalo kamu terus nangis, aku gak akan rela
ninggalin kamu.” Dan inilah akhir dari hidupku.
“Selamat tinggal semuanya. Ayah, ibu, adik, dan teman-temanku. Relakanlah aku
pergi agar aku tenang. Aku mencintai kalian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar