Jumat, 30 November 2012

( Cerpen ) Inilah Akhir Hidupku


Ketika semua teman menatap haru tubuhku, riuhan tangis kesedihan selimuti ruangan, dan kurasakan genggaman lembut tangan ibuku. Aku bisa rasakan semua itu. Ku teriak sekencang-kencangnya, tapi tak ada satupun diantara mereka yang menanggapi teriakanku. Aku menangis. Aku terdiam. Dan ku tenangkan hatiku. Lalu ku pejamkan mata. Ku coba mengingat apa yang terjadi denganku. Hingga akhirnya, aku mengingat semua yang terjadi.
                Hari itu, pukul 22.00, kekasihku mengirim pesan yang mendadak, “Sayang, malem ini aku pulang. Nanti jemput aku ya di terminal.” Jarak rumahku menuju terminal cukup jauh, lalu ku balas pesannya, “Iya, aku sampe disana satu jam lagi ya.” Tapi dia bilang, “Aku gak mau nunggu lama-lama. Pokoknya setengah jam lagi kamu harus udah sampe terminal.” Karena aku tak mau membuatnya kecewa, aku katakan, “Iya.” Kemudian langsung ku pakai helm, nyalakan motor dan langsung ku tancap gas menuju terminal. Sepanjang perjalanan kurasakan handphone ku bergetar dan sepertinya itu pesan darinya. Tapi aku tak hiraukan karena aku sedang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
                Setelah sampai di terminal, ku ambil handphone dan kulihat kekasihku mengirim pesan dan berkata, “Kamu lama!!!” Ketika ingin ku balas pesannya, tapi apa yang terjadi? Aku melihat kekasihku mendapati tumpangan mobil dengan seorang lelaki yang sepertinya ku kenal. Setalah ku perhatikan, ternyata lelaki itu adalah mantan kekasihnya. Saat ku nyalakan motor dan ingin menghampirinya, mereka langsung pergi. Ketika ku coba telepon kekasihku, handphone nya tidak aktif. Lalu aku berinisiatif untuk meninggalkan sebuah pesan. “Maaf, aku telat jemput kamu. Asal kamu tau, aku udah berusaha mengendarai motor dengan cepat. Tapi kecepatan motorku tetep gak akan seimbang dengan kecepatan mobil yang kamu tumpangi. Aku udah liat semuanya. Aku kecewa dan bener-bener gak bisa percaya. Dimana kesabaran kamu?! Kenapa semudah itu kamu nyuruh aku jemput tapi kamu malah pulang dengan cowo lain?! Karena kamu kelamaan nunggu?! Aku cuma telat beberapa menit! Yaudahlah lupain aja. Ini emang salah aku kok. Lain kali aku bakal lebih cepet lagi kalo mau jemput kamu.”
Aku terdiam dan tak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Rasanya aku ingin menangis dan teriak untuk meredakan emosiku. Tapi apa daya aku tak kuasa menahannya. Hingga akhirnya aku pulang dan mengendarai sepeda motorku dengan sekencang-kencangnya. Sepanjang perjalanan, aku selalu terbayang kejadian yang tadi kulihat. Semakin ku ingat, semakin terasa sakit yang kurasakan. Konsentrasi ku dalam mengendarai motor pun buyar hingga akhirnya aku menabrak pembatas jalan. Aku terlempar jauh dari motorku. Helm yang kupakai hancur dan terlepas dari kepalaku. Kurasakan benturan yang keras di kepala, tangan dan kaki ku. Setelah beberapa detik terlempar, aku merasakan kesakitan yang luar biasa disekujur tubuhku. Disaat seperti itu, aku masih memikirkan kekasihku. “Sayang, aku kangeeeen banget sama kamu. Tapi kenapa kamu tega ngecewain dan ngancurin perasaan aku dengan cara kaya gini? Aku gak yakin masih bisa ngeliat muka kamu, senyum kamu, denger suara kamu, ketawa kamu dan ngerasain pelukan kamu lagi. Maafin aku ya kalo aku belum bisa bahagiain kamu selama ini. Sayang aku ke kamu gak akan hilang walaupun kamu udah ngelakuin kesalahan itu. Aku sayang kamu.” Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung mencoba menolongku dan melarikanku kerumah sakit. Lalu aku tak sadarkan diri. Sepertinya roh ku ingin segera melepaskan diri dari tubuhku. Aku menahannya tapi aku tak mampu melawannya. Dan akhirnya tepisahlah roh ku dengan tubuhku. Ku hampiri kekasihku dan berkata di sampingnya sambil menatap tubuhku yang terbaring. “Sayang, aku disini. Kamu jangan nangis. Kamu harus kuat dan harus relain aku. Kalo kamu terus nangis, aku gak akan rela ninggalin kamu.”  Dan inilah akhir dari hidupku. “Selamat tinggal semuanya. Ayah, ibu, adik, dan teman-temanku. Relakanlah aku pergi agar aku tenang. Aku mencintai kalian.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar