Minggu, 04 Desember 2011

( Cerpen ) Cinta Pertama

                Oke.. Cerita kita mulai dari sebuah sekolah yg gak terlalu besar dan gak terlalu kecil. Sekolah ini sangat sederhana dengan tatanan lingkungan Wiyata Mandala yg membuat sekolah ini menjadi terlihat sangat nyaman untuk setiap orang yg memasukinya. Tama, begitulah teman-teman memanggilnya. Dia adalah siswa kelas 11 program IPA sekaligus ketua OSIS di sekolahnya. Cowok yg sangat aktif, pandai dan juga tampan. Banyak gadis-gadis disekolahnya yg berusaha mendekatinya, tapi dia selalu saja bersikap dingin dengan gadis-gadis itu. Dialah orang yg sangat penting dalam membuat program tatanan lingkungan sekolah hingga sekolahnya menjadi sangat nyaman. Sampai-sampai ia bersama OSIS mendapat penghargaan dari sekolah atas kerja kerasnya itu. Selama di sekolah, Tama tidak pernah memikirkan untuk mencari seorang kekasih. Ia lebih fokus terhadap pelajaran di sekolah dan organisasi yg di pimpinnya.
            Suatu hari, Tama mengadakan rapat OSIS dadakansepulang sekolah untuk membicarakan tentang programnya, yaitu membenahi kesalahan-kesalahan yg masih ada. Tama memanggil semua anggota OSIS untuk ikut membicarakan kesalahan-kesalahan itu dengan tujuan dapat membenahinya. Setelah semua anggota berkumpul, Tama langsung membuka rapat. “Oke, sebelumnya gue mau ngucapin makasih buat kalian semua yg udah kumpul.” Semua anggota terlihat bingung, seakan-akan bertanya dalam hatinya, “ada apa Tama ngadain rapat dadakan?” Kemudian Tama menjelaskan maksud dan tujuannya mengadakan rapat dadakan itu. “Sekarang gue mau ngasih tau tujuan gue ngadain rapat dadakan ini. Tujuannya adalah untuk membenahi kesalahan-kesalahan yg masih ada dalam program kita dalam kawasan Wiyata Mandala di sekolah kita ini. Masih banyak kritikan dari guru-guru dalam program kita ini. Gue mohon sama kalian semua, kita jangan putus asa ketika mendapat kritikan dari guru-guru, walaupun kritikan itu membuat kita jatuh. Kritikan itu harusnya kita jadikan sebuah motivasi. Karena secara gak langsung kritikan itu membangun kita untuk bekerja lebih baik lagi.” Setelah Tama selesai menjelaskan, semua anggota langsung mengerti maksudnya. Kemudian mereka saling bertukar pikiran agar bisa menemukan jalan keluar yg baik untuk programnya tersebut. Saat sibuk rapat, mata Tama terpaku oleh seorang gadis yg duduk di bangku Sekbid Seni Budaya. Konsentrasinya pun buyar setelah ia memandang gadis tersebut. Ketika gadis itu tersenyum menatapnya, Tama langsung memalingkan wajahnya yg dari tadi sibuk memperhatikan gadis itu. Kemudian, Tama kembali lagi berkonsentrasi pada rapat yg sedang berlangsung. Tapi sesekali matanya melirik ke arah gadis itu. Akhirnya, mereka telah menemukan jalan keluar untuk memperbaiki kesalahan di dalam programnya dengan niat gak ada lagi kesalahan yg ada di dalam programnya tersebut. Rapat pun selesai dan Tama mengijinkan semua anggota untuk pulang. Tama langsung memanggil sahabatnya, “Dion, sini bentar.” Dion langsung menghampiri Tama. Tama langsung melanjutkan, “Lo tau gak siapa  cewe yg duduk di bangku Sekbid Seni Budaya tadi pas rapat? Kok kayanya gue baru liat tuh cewe ya?” Kemudian, Dion menjawab “Oh, itu namanya Audi anak kelas 10. Dia baru pertama kali ikut rapat, Tam. Makanya lo baru liat dia. Kenapa emang, Tam? Suka lo ya ama dia?” Tama langsung menyangkal pertanyaan Dion, “Gue kan cuma nanya. Masa orang nanya doang di bilang suka. Udah ah, gue balik duluan.” Tama langsung pergi meninggalkan Dion setelah menanyakan gadis itu.
            Keesokan harinya, Tama sangat bersemangat untuk sekolah. Sepertinya, gadis itulah yg membuat Tama menjadi semangat sekali bersekolah. Saat Tama sedang berjalan menuju kantin, Tama bertemu dengan gadis penyemangatnya. Tama langsung salah tingkah saat berpapasan dengan gadis itu. Setelah jalan beberapa langkah, Tama langsung membalikkan arah jalannya dan menuju ke arah gadis itu. Tama langsung menghampiri gadis itu dan meminta nomer handphonenya. “Hei, boleh aku minta nomer handphone kamu?” Gadis itu langsung tersenyum dan menjawab, “Boleh Kak, tapi buat apa ya?” Tama langsung bingung menjawab untuk apa. Akhirnya ada ide yg masuk ke dalam pikirannya, “Nanti kalo misalkan ada apa-apa aku bisa ngehubungin kamu.” Gadis itu langsung memberikan nomer handphonenya pada Tama, kemudian pergi meninggalkannya. Tama sangat senang bisa mendapatkan nomer gadis itu. Kemudian ia kembali lagi berjalan menuju ke kantin.
            Saat malam harinya, Tama langsung mencoba menghubungi nomer gadis itu dengan mengirim pesan. Tama baru ingat, kalo tadi siang dia lupa menanyakan nama gadis itu. Akhirnya ia menanyakan melalui pesan. “Oh iya, tadi waktu di sekolah aku lupa nanyain nama kamu. Nama kamu siapa sih?” Gadis itu langsung membalas, “Oh iya, aku juga baru inget Kak. Nama aku Audi, Kak.” Kemudian Tama langsung melanjutkan kembali perbincangannya dengan Audi dan saling berkenalan satu sama lain. Dia juga minta pada Audi kalo dia gak mau di panggil kakak, cukup panggil Tama aja. Sms-an pun berlangsung lama hingga larut malam. Selama sms-an dengan Audi, Tama sangat senang bisa dekat dengan Audi. Senyumannya selalu terbayang dalam pikiran Tama, bahkan sampai membuatnya senyum-senyum sendiri.
            Hari demi hari pun di lalui Tama dengan penuh semangat, apalagi semenjak dia mengenal Audi. Hubungannya dengan Audi pun semakin hari semakin dekat. Sekarang Tama sudah tidak lagi salah tingkah jika bertemu dengan Audi di sekolah. Bahkan, sesekali mereka sering jalan berdua jika ke kantin. Dion sangat senang melihat sahabatnya dekat dengan Audi. Bahkan, Dion sangat berharap Audi menjadi kekasih Tama. Karena selama di sekolah, tidak ada seorang pun gadis yg bisa meluluhkan hati Tama. Pernah suatu waktu Dion mencoba menjodohkan Tama dengan salah seorang teman perempuannya, tapi Tama masih tetap acuh dengan tawaran Dion itu. Sampai-sampai Dion pusing harus dengan cara apa agar Tama bisa membuka hatinya untuk gadis-gadis yg ia kenalkan.
            Setelah cukup lama Tama dekat dengan Audi, akhirnya Tama ingin mencoba mengungkapkan isi hatinya pada Audi. Tapi dia ingin mengungkapkan isi hatinya tidak dengan cara yg sudah sangat sering dilakukan oleh beberapa temannya. Tidak melalui pesan singkat ataupun telpon. Dia ingin mengungkapkannya dengan cara yg sangat berbeda. Dia ingin kejadian ini sangat bersejarah dan menjadi suatu kenangan indah dalam hidupnya. Kemudian Tama mendapatkan ide yg sama sekali baru terpikirkan olehnya. Ia ingin idenya itu berhasil dalam mengungkapkan isi hatinya pada Audi.
Sepulang sekolah, Tama kembali mengadakan rapat dadakan. Semua anggota kembali lagi di buat bingung oleh Tama. Mereka kembali bertanya-tanya dalam hatinya, “Kenapa jadi ada rapat dadakan lagi nih? Apa ada kesalahan lagi?” Tama terlihat sangat pucat dan keringat terus menetes dari wajahnya setelah semua anggota telah berkumpul. Suasana ruangan rapat menjadi hening dan dingin. Tama menghirup nafas panjang. Kemudian dia membuka rapat dan menjelaskan maksudnya mengadakan rapat dadakan,“Sory gue ngadain rapat dadakan lagi. Sebenernya, kalian gue kumpulin disini bukan karena untuk rapat. Tapi kalian gue kumpulin disini untuk jadi saksi buat gue.” Semuanya semakin bingung setelah Tama menjelaskan maksudnya. Kemudian Tama beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kebelakang. Semua mata tertuju kepada Tama yg sedang berjalan. Lalu Tama langsung menghentikan langkahnya di depan bangku Audi. Tama langsung menarik Audi beranjak dari bangkunya. Kemudian Tama menjelaskan kembali maksudnya kepada semua anggota, “Maksud gue kali ini adalah ini.” Semua anggota semakin bingung karena yg dimaksudkan Tama adalah Audi. Kemudian, Tama langsung melaksanakan niatnya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Audi, “Audi, aku sengaja ngumpulin mereka semua disini. Aku mau mereka jadi saksi atas peristiwa ini.” Audi terlihat bingung, apa maksud Tama sebenarnya. Tama langsung melanjutkan omongannya, “Audi, apa kamu mau jadi pacar aku?” Semua teman-temannya sangat kaget setelah mendengar ucapan Tama. Kemudian, Dion berteriak dari bangkunya di depan, “Terima..Terima..Terima..” Lalu semua anggota juga berteriak, “Terima..Terima..Terima..” Suasana yg tadi hening kini menjadi riuh. Wajah Tama yg daritadi terlihat tegang sekarang menjadi sedikit lebih santai setelah mendapat dukungan dari teman-temannya. Sekarang giliran wajah Audi yg terlihat memucat malu. Gak lama kemudian, suasana riuh menjadi hening kembali saat mereka melihat Audi menghela nafas panjang. Lalu, Audi menjawab pertanyaan Tama, “Aku mau jadi pacar kamu.” Semua yg menyaksikan langsung berteriak senang setelah Audi menjawab pertanyaan Tama. Tama langsung menghela nafas panjang. Wajahnya yg tegang pun mendadak menjadi sangat ceria. Dia langsung memeluk Audi di depan teman-temannya. Dion yg menyaksikan pun sangat senang melihat sahabatnya memiliki pacar. Setelah menyaksikan peristiwa itu, semua anggota OSIS pun diijinkan pulang oleh Tama. Kemudian, untuk pertama kalinya, Tama pulang bersama kekasihnya, Audi.
            Di perjalanan pulang, Audi bertanya pada Tama, “Kenapa kamu nembak aku di depan orang banyak gitu? Aku malu banget tau.” Tama tersenyum mendengar pertanyaan Audi, lalu ia menjawab, “Aku sengaja nembak kamu kaya gitu, soalnya aku mau hubungan aku yg pertama kali ini special banget dan bisa di kenang sepanjang hidup aku. Makanya aku pake cara itu.” Audi langsung bengong mendapat jawaban itu dari Tama. Audi sama sekali gak percaya kalo Tama baru pertama kali pacaran.Audi langsung berjanji dalam hatinya, kalo dia gak akan ngecewain Tama.
Hari-hari Tama menjadi lebih berwarna semenjak kenal dengan Audi. Tama sangat senang bisa menjalani hubungan dengan Audi, begitupun dengan Audi.Hingga suatu hari saat Tama sedang berbaring di tempat tidurnya,Tama mendapat kabar dari teman Audi, kalo Audi mengalami kecelakaan yg cukup parah saat ingin pulang dari sekolah. Audi tertabrak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi saat ingin menyebrang jalan di depan sekolahnya. Audi langsung dilarikan ke Rumah Sakit terdekat oleh saksi mata yg melihat kejadian itu. Tama yg mendengar kabar tersebut pun langsung lemah tak berdaya. Ia seakan tak percaya mendapat kabar buruk itu. Ia pun tak kuasa menahan air matanya. Lalu ia bergegas berangkat menuju Rumah Sakit tersebut. Air mata masih terus membasahi pipinya selama perjalanan. Saat sampai di Rumah Sakit, Tama melihat teman-teman Audi yg sedang menangis. Lalu Tama langsung menghampirinya dan menanyakan keadaan Audi. Tapi tak ada satupun teman Audi yg menjawab pertanyaannya. Kemudian Tama masuk kedalam kamar tempat Audi di rawat. Tama melihatDokter sedang menutupi wajah Audi dengan kain. Tama langsung bertanya, “ada apa dengan Audi, Dok?” Dokter menatap Tama, kemudian menjelaskan pada Tama, “Korban mengalami pendarahan yg cukup parah. Dia telat datang kesini, sehingga kami tidak bisa menolong nyawanya. Kami sudah berusaha, tapi tidak berhasil.” Saat mendengar penjelasan dari Dokter, Tama langsung membuka kain yg menutupi wajah Audi. Ia menangis sekencang-kencangnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tamasangat tidak percaya Audi harus pergi meninggalkannya saat ia sangat menikmati hubungannya itu. Padahal hubungannya dengan Tama baru berjalan seminggu, tapi Tama merasa hubungan itu adalah hubungan yg sangat panjang. Tama sangat hancur mendapat kenyataan itu. Kemudian orang tua Audi pun datang setelah diberitahukan oleh teman Audi. Orang tua Audi pun langsung menangis melihat anaknya telah tiada.
Keesokan harinya, Audi dikebumikan di pemakaman dekat rumahnya. Tama hadir dalam prosesi pemakan. Teman dan guru-gurunya pun datang. Mata Tama sangat lebam karena ia tak mampu menahan air matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Audi. Tama sangat mencintai Audi walaupun hubungannya masih terbilang sangat muda. Tama selalu ingat senyuman Audi saat ia pertama kali menatap wajah Audi. Ia sama sekali tak mampu berkata. Kejadian itu bagaikan mimpi buruk dalam hidup Tama. Setelah prosesi pemakaman selesai, perlahan-lahan semua orang yg hadir membubarkan diri, kecuali Tama. Ia masih terus menatap batu nisan Audi. Tangisannya pun masih belum terhenti. Kemudian ia menghampiri batu nisan itu dan mengusap-usap nama Audi. Tangisannya semakin kencang. Sebelum pergi meninggalkan makam Audi, Tama mengatakan sesuatu pada Audi, “Audi, kamu adalah cinta pertama aku. Aku gak percaya kamu harus pergi secepat ini. Walaupun hubungan kita belum terlalu lama, tapi sayang aku ke kamu sangat besar. Aku harus ngerelain kamu supaya kamu tenang disana. Makasih kamu udah mau ngejalanin hubungan dengan aku. Aku seneng banget dan aku bahagia. Sayang aku ke kamu gak akan pernah hilang. I love you.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar