1.
Makelar Cinta
OKE. Cerita kita mulai dari sebuah rumah yg tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar juga. Bisa dibilang rumah sederhana yg memiliki banyak kebahagiaan dan kenangan di dalamnya. Ya, itulah rumah Denis. Rumah hasil jerih payah orang tuanya mencari uang dan memeras keringat setiap harinya. Dirumah itulah Denis dilahirkan dan dibesarkan.
Denis memiliki seorang sahabat yg dikenal saat dia memasuki bangku SMP. Sebut saja dia Rama. Mereka selalu bersama jika melakukan suatu kegilaan dan kenakalan. Bahkan mereka sering keluar masuk ruang BK di sekolah akibat kenakalannya. Rama memiliki seorang pacar yg bernama Vitri. Mereka saling kenal melalui situs jejaring sosial, friendster. Situs jejaring sosial yg sangat ternama pada masa itu.
“Yang, kenalin nih temen aku.” Sambil membuka helm dan memukul bahu Denis dengan cukup keras. Saat itu, Rama mengajaknya ke sekolah Vitri dan berniat untuk mengenalkan Vitri pada Denis. Supaya bisa saling kenal dan akrab katanya.
“Hai, Vitri.” sapa wanita itu dengan suara yg lembut dan melemparkan senyumnya yg diiringi lambaian tangan yg cukup lentik jemarinya.
“Denis.” sahutnya santai dengan membalas senyumannya.
Hubungan percintaan mereka memang sama seperti hubungan orang-orang lainnya yg selalu saja di datangi masalah dan konflik. Setiap bertengkar, Vitri selalu meminta tolong pada Denis agar mereka bisa berdamai lagi. Karena saat itu, teman Rama yg ia kenal hanya Denis. Denis juga tidak segan-segan untuk menolong hubungan mereka.
“Vit, temen lo ada yg lagi jomblo gak? Kalo ada kenalin dong?” tanya Denis pada Vitri sambil mengaduk mie rebus panas yg telah dipesan. Saat itu Denis, Rama dan Vitri sedang makan di suatu mall.
“Wah, kebeneran banget nih ada temen gue yg baru putus dari cowonya.” sahut Vitri spontan sambil mengaduk-aduk minumannya.
“Yg boneng Vit? Siapa namanya? Cantik gak?” sambut Denis dengan nada penuh semangat.
“Bener, Den. Anaknya cantik lagi. Namanya Risa. Nanti gue kenalin deh sama lo. Siapa tau lo suka sama orangnya nanti.” Vitri kembali melemparkan senyumannya pada Denis.
“Oke deh Vit.” tanggap Denis dengan mulut penuh dengan mie panas yg sedang dilahapnya kemudian mengipas-ngipas mulutnya yg kepanasan.
“Aku juga mau dong yang dikenalin sama temen kamu yg masih jomblo?” celetuk Rama sambil tersenyum menatap Vitri dan menaik turunkan alisnya.
“Oke nanti kamu nanti aku kenalin juga. Tapi aku getok dulu sini kepala kamunya pake gelas ya? Mau?” Vitri mengangkat gelas minuman yg sedang diminumnya dan merubah tatapannya menjadi sinis dan badmood.
“Waduh, makasih deh yang.” sahut Rama dengan nada ketakutan sambil menggapai tangan Vitri yg sedang memegang gelas tepat diatas kepalanya.
Melihat tingkah mereka, Denis tertawa pekik tertahan karena mie yg masih ada di dalam mulutnya. Hampir-hampir mie yg ada di dalam mulutnya tersembur keluar mengenai Rama yg berada tepat di hadapannya. Akhirnya Vitri setuju dan berjanji akan mengenalkan Denis dengan temannya yg dia maksud. Dia akan menjadi makelar cinta Denis saat itu. Lalu mereka melanjutkan makan lagi.
2.
Curi-Curi Pandang
“Den, bisa ke komplek perumahan gue gak sekarang? Gue mau menuhin janji gue yg waktu itu nih.” Ucap Vitri di dalam telpon.
“Yg boneng lo Vit? Bisa kok bisa. Nanti gue kesana sama Rama deh.” dengan semangat Denis menjawab telponnya sambil loncat dari tempat tidur hingga membuat Rama kaget.
Saat itu, sekolah Vitri sedang pengambilan nilai renang di dekat komplek perumahannya. Denis langsung bergegas berangkat kesana dengan Rama.
“Ada apaan si? Ngagetin gue aja dah ah. Gak tau gue lagi konsentrasi apa?” bentak Rama yg sedang asyik main game perang di komputernya. Dia paling gak bisa diganggu jika sudah dihadapan komputernya. Bahkan jika di panggil pun enggan untuk menoleh.
“Barusan Vitri telpon gue, terus nyuruh gue ke komplek rumahnya sekarang. Dia mau nepatin janjinya yg waktu itu. Lo ikut ya temenin gue.” sahut Denis sambil memakai jaket.
“Janji apaan emang dia sama lo?” tanya Rama dengan raut muka yg sinis. Rama memang tipe cowo pencemburu. Wajar jika dia cemburu, karena dia sangat menyayangi Vitri. Setiap pacaran, Rama selalu terburu-buru memberikan sayangnya sepenuhnya. Jadi wajar kalo dia selalu di kecewakan oleh mantan-mantan pacarnya yg dulu. Mulai dari di selingkuhin, di tinggal begitu aja dan bahkan pernah pacaran yg hanya dijadikan tukang ojeg. Miris banget emang nasib percintaannya.
“Waktu itu kan dia janji mau ngenalin gue sama temennya. Masa lo lupa si?” jawab Denis dengan santai agar Rama tidak curiga padanya.
“Oh, iya iya. Gue baru inget. Gue kira janji apaan,” seru Rama yg merubah kembali raut wajahnya menjadi santai. “Terus kapan nih kita berangkat kesana?” lanjut Rama dengan pertanyaan bodoh seperti orang yg tidak memiliki dosa. Padahal tadi Denis sudah bilang kapan berangkanya, tapi dia masih aja nanya kapan. Mulai lagi penyakit telminya kambuh.
“Besok kita kesananya! Ya sekarang lah kampret, mau kapan lagi atuh!” sentak Denis sewot akibat pertanyaan Rama tadi. “Buru ah rapih-rapih lo sana! Masa lo mau pake boxer si ketemu cewe lo? Udah kaya korban pencabulan aja lo.” sambil memaksa Rama beranjak dari depan komputernya dan menendang bokong Rama. Kalo gak dipaksa, dia gak akan pernah beranjak dari tempat duduknya. Seperti lem pipa paralon yg telah merekatkan bokong dengan bangkunya itu.
“Iya napa. Ah, lagi tanggung juga.” raut wajahnya yg tadi ceria kembali di tekuk oleh Rama. Ia berjalan sambil mengelus-elus bokongnya yg tadi sempat di tendang Denis.
Setelah masalah dengan Rama selesai, sekarang datang lagi masalah yg baru. Sebut saja Dino. Dia salah seorang teman Denis dan Rama. Denis langsung mengajaknya tanpa basa-basi lagi karena takut Vitri menunggu terlalu lama.
“No, ikut yuk ketemu Vitri sekarang. Gue mau kesana sama Rama.”
“Yah elah, gue baru sampe juga. Belom ge nafas nih gue disini. Istirahatin pantat gue dulu kek sebentaran. Masih panas banget nih pantat gue.” jawabnya dengan raut wajah cemberut dan berdiri sambil mengelus-elus bokongnya.
Ya, sepeti yg dibilang tadi, masalah yg baru datang. Dino adalah salah satu makhluk Tuhan yg super malas. Selalu saja memiliki beribu-ribu alasan jika di ajak kemana-mana atau jika di suruh apa-apa. Denis dan Rama sudah gak heran jika dia mengeluarkan jurus andalannya itu. Ada satu slogan yg sangat cocok sekali dengannya, Mati Segan, Hidup pun Tak mau. Ya, itu sangat cocok untukknya.
“Yee, mana gue tau kalo lo mau kemari. Lagian gak ngabarin dulu si. Udah buru deh. Mau ikut gak nih? Kalo gak mau, gue tinggal ya? Soalnya gua lagi ada bisnis cewe nih sama Vitri. Jangan sampe ini bisnis gagal kalo cuma gara-gara lo doank.” Seru Denis sambil memakai helm dan menyalakan motor.
“Wah, bisnis cewe? Yg betul lo, Den?” dengan menampakkan kecerian dari wajahnya. “Ayo, Ayo deh, gue ikut.” Dino langsung memakirkan motornya dan memakai kembali helmnya.
Dino memang pemalas, tapi dia gak pernah malas kalo sudah masalah perempuan. Malah bisa dibilang dia sangat hobi mengoleksi perempuan. Saat ini pacarnya juga ada empat dan itu terasa masih kurang buatnya. Maklum, hukum karma belom singgah di hidupnya.
Akhirnya, mereka bertiga pun berangkat. Jarak dari rumah Rama menuju rumah Vitri cukup jauh. Kurang lebih 20km. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan menuju komplek perumahan Vitri, akhirnya mereka sampai juga disana.
“Den, ini dia cewe yg waktu itu gue ceritain sama lo. Cantik kan?” ucap Vitri sambil tersenyum menatap Denis dan merangkul perempuan yg dia maksud.
Denis hanya menganggukkan kepala dan melemparkan senyuman kepada perempuan yg di maksud oleh Vitri.
Ada rasa canggung ketika ia ingin berkenalan dengan perempuan yg Vitri maksud. Tapi ia coba rileks dan mencoba untuk tetap tenang. Ada dua orang temannya saat itu, Tina dan Risa. Dan yg ingin dikenalkan pada Denis itu namanya Risa.
Denis berkenalan dengan mereka berdua. Dino dan Rama juga ikut berkenalan. Saat Denis memperhatikan Risa, ia sempat tertawa sendiri. Setiap ada kesempatan dia selalu curi-curi pandang.
“Ya ampun, Risa mirip banget sama Fadia.” ujar Denis dalam hati.
Fadia itu pacar Denis saat itu. Vitri sebelumnya gak pernah tau kalo Denis sudah memiliki pacar. Yg tau hanya Rama dan Dino. Tapi Denis sudah membicarakan dengan mereka agar tidak membongkar rahasia ini.
“Vit anter gue ke depan komplek yuk. Gue takut kemaleman nanti sampe rumahnya.” seru Risa dengan nada datar dan wajah yg khawatir. Suaranya terdengar sangat lembut saat berbicara. Rama dan Dino sampe melongo memperhatikan Risa saat berbicara.
“Jangan sama gue ya, gue gak enak kalo ninggalin Tina sendirian disini. Den, lo aja yg anter Risa ya?” spontan Vitri menyuruh Denis sambil tersenyum mesem menatapnya.
Denis kaget saat mendengar Vitri menyuruhnya untuk mengantar Risa. Matanya sampai melotot dan mungkin hampir copot dan jatuh ke tanah. Diiringi dengan mulut yg menganga Denis menatap Vitri.
“Lah kok jadi gue sih Vit? Gue gak enak ah.” Denis yg tadinya santai, jadi salah tingkah gak karuan. “No, lo aja yg anter ya, gue malu No.” membisikkan ditelinga Dino sambil menepak-nepak punggungnya. Awalnya Dino juga menolak. Di depan perempuan, Dino suka jual mahal. Maklum, playboy cap kampret yg punya beribu-ribu jurus andalan. Tapi setelah dipaksa, akhirnya dia mau mengantarnya. Akhirnya Denis bisa mengalahkan Dino dari sifat malasnya dan sok jual mahalnya.
“gue pulang duluan ya, semua.” seru Risa pamit dan melambaikan tangannya diiringi senyumannya yg indah.
Setelah dia pergi, Denis ngobrol-ngobrol sama Vitri tentang Risa. Dia menanyakan rumahnya dimana, bagaimana sikapnya disekolah, dan dia tipe cewe yg seperti apa.
Vitri menjelaskan panjang lebar dan sangat serius. Dia juga memberi tahu semua nama mantan pacar Risa. Denis dan Rama melongo mendengarkan Vitri yg sedang menjelaskan dengan sangat detail. Tina hanya sibuk dengan handphonenya yg selalu di genggamnya kemanapun dia pergi. Dia sama sekali tidak memperdulikan obrolan mereka bertiga. Baginya, handphone adalah hidup dan matinya.
Sesekali Denis dan Rama tertawa kalo ceritanya ada yg sedikit lucu. Vitri juga bilang, kalo Risa itu paling lama berpacaran hanya satu minggu dan gak pernah lebih dari itu. Semua rahasia dan curhatan Risa juga ikut diceritakan oleh Vitri. Dia bersemangat sekali menceritakan itu semua kepada Denis dan Rama.
“Vit, gue pulang ya? Takut nanti di telpon Nyokap nih.” celetuk Tina dengan nada seperti orang ketakutan dan pandangannya tetap tertuju ke handphone bukan ke Vitri yg sedang di ajaknya bicara.
“Tunggu dulu Na, tunggu Dino dulu sebentar. Biar nanti ada yg anter ke depannya?”. jawab Vitri dengan sigap. Seperti orang yg sangat terganggu karena omongannya terpotong.
“Oke deh.” sahut Tina sambil tersenyum menatap mereka bertiga. Kemudian memainkan lagi handphone yg sedang di genggamnya.
Vitri kembali melanjutkan ceritanya yg sempat terpotong. Denis dan Rama juga kembali mendengarkan. Gak lama kemudian, Dino datang.
“No, jangan dimatiin dulu motornya. Anterin dulu Tina kedepan ya sebentar.” Vitri menyambut Dino dengan suara yg lantang, sampai orang yg disekitar mereka memandangi Vitri . Vitri cuek aja orang disekitar memperhatikannya. Seakan dunia miliknya sendiri.
“Ayo deh ayo.” Dino langsung memasang raut muka cemberut sambil menatap Denis dan Rama. Denis dan Rama selalu tertawa jika melihat raut mukanya yg sedang cemberut dan memanyunkan bibirnya.
Tina pun pamit kepada mereka bertiga. Gak lama kemudian, Vitri mendapat telepon dari Mamahnya. Mamahnya menyuruh Vitri untuk cepat pulang karena sebentar lagi sudah mau malam.
“Yang, Mamah barusan telepon nyuruh aku pulang sekarang. Kamu mau anter gak?” sambil menggenggam tangan Rama dengan memasang raut wajah memelas agar Rama mau mengantarkannya pulang.
“Iya aku anter, tapi nunggu Dino dulu biar nanti pake motor nganternya.” sahut Rama dengan nada lemas dan muka datar seakan gak mau nganter Vitri pulang.
Akhirnya, yang ditunggu datang juga. Rama langsung buru-buru mengantarkan Vitri pulang karena takut Vitri di marahi oleh Mamahnya. Vitri pun pamit dengan Denis dan Dino.
3.
Aku Suka Kamu
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Denis meminta nomer handphone Risa ke Vitri agar ia bisa lebih akrab dengan Risa. Nomer handphone Risa dikirim melalui pesan oleh Vitri.
“Hai,” sapa Denis dalam pesan pada Risa.
Awalnya, Risa sangat jutek dan cuek jika membalas pesan Denis. Dia hanya membalas seperlunya dan seperti orang yg merasa terganggu. Tapi Denis terus mencoba agar bisa akrab dengannya.
Akhirnya, usaha Denis untuk bisa akrab membuahkan hasil. Kini, hubungannya dengan Risa semakin hari semakin dekat setelah kurang lebih seminggu dia terus mendekatinya. Setiap hari, Denis selalu menanyakan kabarnya. Sedang apa, dimana, dan dengan siapa. Maklum, kalo orang sedang jatuh cinta ya seperti ini kurang lebihnya. Denis juga suka meneleponnya jika Risa sedang tidak sibuk. Terkadang, kalo Denis gak memberi kabar, Risa suka menanyakan kabarnya terlebih dahulu. Alhasil, Risa sudah gak jutek lagi dan juga terlihat jadi lebih perhatian pada Denis.
Setelah sudah lama pendekatan dengannya, Denis coba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, kalo dia suka Risa.
“Risa, sebenernya aku suka sama kamu dan aku mau ngejalanin hubungan kita ini lebih dari temen. Aku yakin kamu bisa jadi wanita yg bisa bikin aku bahagia. Aku harap kamu bisa terima cinta aku. Jangan tolak cinta aku dan jangan buat aku hancur.” ungkapnya di dalam pesan.
Setelah ia ungkapkan perasaannya, hatinya terasa lega. Tapi masih ada rasa yg mengganjal. Risa belum menjawab dia mau atau enggak menjalani hubungan dengannya. Denis menunggu jawaban Risa dengan sabar dan penuh harap. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Risa membalas pesannya. Denis membuka isi pesan itu dengan penuh harap.
“ya udah jalanin aja Den.” Jawab Risa dengan singkat dan santai.
Dari kata-katanya itu, Denis langsung diam. Dia bingung dan memikirkan jawaban Risa. Denis sama sekali gak ngerti apa maksudnya. Dia coba untuk mengerti, tapi tetap gak ngerti. Akhirnya ia menanyakan pada Dino, si playboy cap kampret.
“No, maksudnya apa si ini? tanya Denis.
Dino malah menertawakan dengan senangnya. Denis kesal melihat Dino yg malah asik meledeknya dan terus memojokkannya. Tawanya seperti orang yg sedang menyaksikan acara lawakan di televisi.
“Ini maksudnya dia mau ngejalanin hubungan sama lo dan dia mau jadi pacar lo. Ah payah banget dah yg kaya beginian lo kagak ngerti.” ungkap Dino sambil menahan tawa yg daritadi terus meledek Denis.
Akhirnya dia mengerti setelah dijelaskan oleh Dino sang playboy cap kampret. Denis tertawa bahagia dan memukul bahu Dino dengan keras, sekalian membalas ledekannya tadi. Dia langsung mengucapkan terima kasih pada Risa karena dia tidak menolak cintanya. Resmi lah mereka berpacaran.
Denis langsung mengabarkan kabar itu pada Vitri. Dia bilang kalo dia sudah resmi berpacaran dengan Risa. Vitri ikut senang mendapat kabar itu dan mengucapkan selamat. Dia juga meminta tolong, agar jangan pernah Denis menyakiti Risa. Apalagi sampai mengecewakannya. Dia bakal berusaha sebisa mungkin gak akan mengecewakan Risa. Tekadnya, dia akan membuat Risa nyaman dan bahagia dengannya.
Setelah tertawa senang, Denis kembali terdiam. Ia baru sadar, kalo di satu sisi lain ia masih resmi menjadi pacar Fadia. Disitulah Denis mulai kebingungan harus bagaimana. Ia berusaha menutupi semua itu dari Risa dan berusaha mencari jalan keluar agar bisa mengakhiri hubungannya dengan Fadia. Dia gak mau Risa tahu semua ini. Kalo Risa sampai tahu, dia pasti akan sangat kecewa padanya. Apalagi kalo Vitri juga sampai tahu, mungkin dia akan ikut kecewa juga.
4.
Sakit Hati
Tak terasa sudah beberapa minggu Denis menjalani hubungan dengan Risa. Setiap pulang sekolah, ia selalu menemui Risa. Setiap malam, ia selalu menelepon Risa. Sesekali, ia mengajak Risa untuk ikut kumpul bersama teman-temannya. Denis sengaja mengenalkan Risa dengan teman-temannya, agar Risa bisa lebih dekat dan akrab. Ia juga suka meminta Risa untuk menemaninya latihan ngeband. Denis bahagia menjalani itu semua bersamanya. Rasanya, ia ingin selalu terus bahagia bersama Risa. Tapi, sayangnya kebahagiaan itu gak berlangsung lama.
“kamu kenal Fadia?” Denis kaget setengah meninggal ketika mendapat pesan dari Risa. Ia gak bisa berkata apa-apa saat membaca pesannya. Ia coba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Risa.
Akhirnya, ia coba jawab kalo Fadia itu mantan pacarnya. Setelah ia jawab itu, ia yakin Risa gak akan percaya. Risa sebenarnya tahu, kalo Denis menduakan cintanya. “Gak mungkin kalo dia gak tau apa-apa terus bisa sms gini ke gue” hati Denis berkata sangat kuat.
Sebelum semuanya terlambat dan sebelum hal yang gak ia inginkan terjadi, ia coba jelaskan semuanya ke Risa dan berkata sejujur-jujurnya tentang Fadia. Ia akan terima semua resikonya nanti, sekalipun harus mengakhiri hubungannya dengan Risa.
“Yang, sebenernya Fadia itu pacar aku, bukan mantan. Kalo aku akhirin hubungan kita ini gapapa kan? Aku gak mau kamu malah sakit hati nantinya kalo hubungan ini terus dijalanin. Maafin aku gak pernah jujur soal ini ke kamu. Karena aku gak mau kamu kecewa sama aku.” Denis coba menjelaskan.
Setelah ia jelaskan semuanya, hubungannya dengan Risa pun berakhir. Risa benar-benar kecewa setelah Denis menceritakan semuanya. Denis memilih mengakhiri hubungan itu bukan karena ia tidak menyayanginya, tapi ia tidak ingin Risa akan tambah tersakiti akibat dari ulahnya. Ia yg memulai dan ia juga yg harus mengakhiri. Ia pun harus merelakan Risa pergi meninggalkannya.
ῼ
Hari-harinya berubah setelah kepergian Risa. Ia seakan tak mampu untuk tersenyum dan tertawa. Hati dan pikirannya selalu tertuju pada Risa. Perasaannya tidak pernah bisa tenang setiap kali memikirkan Risa.
“Den, kenapa hubungan lo sama Risa bisa udahan? Sebenernya ada apa sih sama kalian berdua?” ucap Vitri di dalam pesan setelah mengetahui kabar hubungannya dengan Risa.
“Sebenernya gue punya pacar selain Risa, Vit. Maaf gue nutupin semua ini dari lo dan dia. Maafin gue juga kalo gue udah ngecewain lo.” jawabnya dengan penuh penyesalan.
Untungnya, Vitri dapat mengerti dan memaklumi kesalahannya. Vitri tidak ingin memperpanjang masalah itu. Denis benar-benar merasa bersalah pada Vitri. Dia yg telah mengenalkan Denis pada Risa, tapi Denis malah mengecewakannya. Sekarang, sudah ada dua orang yg telah Denis kecewakan, Risa dan Vitri. Ia berharap, gak akan ada lagi orang yg ia kecewakan.
ῼ
“Kamu kenal gak sama Risa?” Denis kira setelah hubungannya dengan Risa berakhir, masalah itu bakalan selesai. Tapi ternyata setelah masalah itu selesai, masalah yg baru pun datang. Sekarang giliran Fadia yg menanyakan tentang Risa.
“Sebenarnya ada apa dengan ini semua?! Kenapa Risa dan Fadia bisa menanyakan hal yg sama?!” tanyanya dalam hati dengan pikiran yg tidak karuan. Ia mencoba untuk tetap tenang dan kembali mencari alasan dari pertanyaan Fadia.
“Kamu udah pacaran lama kan sama Risa? Kamu ngeduain aku kan sama dia? Aku udah tau semuanya. Jujur aja, aku gak akan marah kalo kamu jujur.”
“Sh#t. Ternyata, Fadia udah tahu kalo gue punya cewe lain selain dia.” ungkapnya dalam hati dengan penuh amarah.
Terpaksa ia jujur tentang hubungannya dengan Risa. Ia capek jika harus terus-menerus bohong. Ia tak ingin masalah ini terus berlanjut dan terus membuatnya bingung.
“Kok kamu bisa tau hubungan aku sama Risa? Tau darimana?” tanyanya pada Fadia dengan penuh rasa penasaran yg luar biasa.
“Aku tau itu semua dari tetangga aku, sekaligus temen aku dirumah. Dia juga temennya Risa di sekolahnya.”
“Ternyata dunia itu sempit” ungkapnya dalam hati.
Denis hanya bisa menyesali perbuatannya saat itu. Dia meminta maaf pada Fadia karena sudah mengecewakannya. Untungnya, Fadia masih bisa memaafkan kesalahannya yg sangat vatal itu. Masalah itu pun bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Fadia benar-benar tidak marah. Dia hanya mengingatkan Denis agar jangan pernah mengulangi lagi kesalahannya. Denis pun berjanji padanya, kalo ia gak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi.
Hubungannya dengan Fadia kembali membaik setelah masalah itu selesai. Sekarang, Fadia jadi lebih perhatian dan selalu ingin tahu kabar tentang Denis. Denis tahu, Fadia masih takut jika sewaktu-waktu ia akan mengulangi kesalahannya lagi.
Denis sangka Fadia itu orang yg sabar. Tapi ternyata ia salah menilainya. Di depannya, Fadia selalu terlihat manis, baik dan sabar. Tapi setelah ia tahu kalo dibelakangnya sifat Fadia berubah 180 derajat, ia sangat kecewa padanya.
“Sh#t, apa maksudnya dia ngirim sms kasar kaya begini ke Risa?” seru Denis dalam hati saat melihat isi pesan didalam handphone Fadia. Ia gak tau kenapa hatinya sangat merasakan sakit setelah melihat tindakan Fadia terhadap Risa.
Setelah ia tahu sifat Fadia, ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Fadia. Ia sangat tidak suka dengan tindakan yg sudah dia lakukan kepada Risa.
“Yang, plis jangan akhirin hubungan ini. Aku sayang kamu. Aku gak mau hubungan kita sampe berakhir kaya begini. Plis kasih aku kesempatan.” Ujar Fadia yg tak ingin hubungannya berakhir. “Pokoknya aku gak mau putus dari kamu dan kita harus tetep ngejalanin hubungan ini!” ucapnya memaksa Denis untuk tetap menjalani hubungan itu.
Berkali-kali Fadia mengirim pesan dan menelpon Denis, tapi sama sekali Denis tidak meresponnya. Denis sudah terlanjur kecewa dengan sikapnya. Padahal jika di pikir-pikir, kesalahan Denis saat menduakan cinta Fadia saat itu lebih mengecewakan daripada sikap Fadia yg memaki-maki Risa. Tapi entah kenapa Denis bisa sampai merasakan sakit hati yg sangat dalam lebih dari yg ia bayangkan.
“Oke, aku terima kalo kamu emang mau putus dari aku. Tapi aku minta satu permintaan sama kamu. Aku mohon sama kamu, setelah hubungan kita ini berakhir, jangan pernah kamu nganggep aku musuh kamu. Aku gak mau kita malah jadi musuh setelah ini. Tolong turutin permintaan aku.” tutur Fadia dalam pesan setelah hampir seharian mengirim pesan dan menelpon Denis. Fadia pun bisa menerima jika memang hubungannya harus berakhir. Dan berakhirlah hubungannya dengan Fadia.
5.
Apakah ini Karma?
Setelah beberapa bulan tidak ada komunikasi lagi antara Denis dengan Risa, ia kembali memberanikan diri untuk mendekati Risa lagi. Sekarang ia sudah benar-benar single dan sudah putus dari Fadia. Gak akan ada lagi yg akan mengganggu hubungannya dengan Risa.
Risa masih meresponnya saat Denis mencoba mendekatinya lagi. Ia pikir Risa sudah sangat marah dan gak mau lagi kenal dengannya gara-gara kelakuannya waktu itu. Tapi ternyata pemikirannya itu salah. Ia meminta maaf atas kesalahannya waktu itu. Ia harap Risa masih bisa memaafkannya.
“Aku udah maafin kamu kok. Tapi tolong jangan pernah ngebahas masalah yg dulu lagi ya, aku gak mau inget-inget lagi msalah itu.” ujar Risa dengan penuh harap.
Oke, Denis langsung turuti pintanya. Mulai saat itu ia kembali lagi dekat dengannya. Sama seperti dulu, setiap hari ia selalu sms-an dan telepon-teleponan. Ia berharap, kali ini dirinya bisa menjadi lebih baik lagi untuk Risa.
Setelah sudah cukup lama lagi dekat dengan Risa, Denis kembali menyatakan perasaannya. Ia ingin mencoba lagi untuk melanjutkan kisah cintanya yg sempat kandas di tengah jalan. Ia juga ingin memperbaiki kesalahannya yg dulu pernah dilakukannya pada Risa. Tapi ia tidak tahu, Risa masih bisa menerimanya lagi atau tidak. Ia takut Risa gak mau lagi menjalani hubungan dengannya karena kesalahannya waktu itu. Denis sudah berjanji dengan dirinya sendiri, bahwa ia gak akan pernah mengulangi kesalahannya yg dulu. Kali ini ia benar-benar single, jadi gak ada lagi yg harus ia takutin untuk hubungannya nanti.
Setelah menunggu balasan yg cukup lama, akhirnya Risa menjawab. Risa masih mau menjalani hubungan lagi dengannya. Risa memintanya untuk tidak membuatnya kecewa untuk yg kedua kalinya. Denis pun berjanji padanya, kalo ia gak akan pernah mengulangi kesalahannya yg dulu dan gak akan membuat Risa kecewa lagi. Mulai saat itu, hubungannya dengan Risa kembali lagi berlanjut.
Setelah Denis sudah benar-benar berubah untuk Risa, sekarang giliran Risa yg benar-benar berubah sikapnya. Hubungan kali ini jadi agak berbeda, tidak sama seperti saat dulu pertama kali ia menjalani bersama Risa dan saat pendekatan untuk yg kedua kalinya.
Semenjak Denis kembali menjalani hubungan dengan Risa, ia jarang sms-an, telpon-telponan, dan Risa juga selalu beralasan setiap kali ia mengajaknya untuk bertemu. Denis takut Risa membalas kesalahannya yg dulu dan memiliki cowo lain selain dirinya Ia juga takut hukum karma datang kepadanya saat itu.
Karena ia ingin tetap menjalani hubungan ini dengan Risa, ia menghiraukan dan tidak memperdulikan sikap Risa. Ia berharap Risa bisa berubah menjadi Risa yg dulu.
ῼ
“Yang, sebenernya kita itu pacaran apa enggak sih? Setiap aku sms kamu, kamu gak pernah bales. Setiap aku telpon juga kamu gak pernah angkat. Sekalinya ngebales, cuma bales seperlunya aja. Setiap aku ajak buat ketemu, kamu selalu alesan ini itu. Kalo kamu mau udahin hubungan ini ngomong aja, jangan diem dan ngegantungin hubungan kita. Kasih aku kepastian yg jelas?!” Denis sewot setengah meninggal.
Hubungannya gantung selama seminggu dengan Risa. Gak jelas apa statusnya, apakah masih pacaran atau sudah berakhir. Setelah Denis pikir-pikir, mungkin Risa sengaja bersikap seperti itu agar dirinya gak betah menjalani hubungan dengannya. Ya, mungkin pikirannya itu benar atau mungkin juga salah. Ia tidak tahu apa yg Risa mau.
Denis menunggu balasan Risa, tapi Risa masih tetap tidak membalas pesannya. Denis telepon tidak di angkat. Ia juga mencoba mengirim pesan dan menelepon teman-teman Risa, tapi sama sekali tidak ada respon. Kejadian ini benar-benar sama ketika Denis melakukan hal seperti ini ke Fadia dulu. Denis kesal menahan ini sendiri. Ia gak sanggup kalo tetap menjalani hubungan yg gantung dan gak ada kepastian dari Risa.
“kalo kaya gini terus lebih baik kita udahin aja hubungan ini. Aku gak kuat nahan ini semua. Apalagi harus ngejalanin hubungan yg gantung kaya gini. Makasih buat semuanya.” ungkapnya di dalam pesan sambil menahan emosi yg cukup besar pada Risa.
Berakhir kembali hubungannya dengan Risa. Denis sangat kecewa dan merasa di permainkan oleh Risa. Ternyata Dewi Fortuna belum berpihak pada cintanya. Tapi yg bikin ia bingung, kenapa teman-teman Risa selalu bilang kalo Risa itu sangat sayang padanya? Dari sifatnya saja sudah terlihat, kalo Risa itu sama sekali gak punya rasa sayang untuknya.
6.
Malam Yang Indah
Kini Denis sudah duduk di bangku SMA. Sudah hampir setahun semenjak putus untuk yg kedua kalinya dengan Risa, ia sama sekali tidak pernah komunikasi dengan Risa meskipun hanya lewat sms atau telepon. Sekarang ia menjalani hubungan dengan Pia setelah dirinya putus dengan Risa dulu.
Awal Januari, Denis coba untuk mengirim pesan ke nomer handphone Risa. Ia gak berharap Risa membalas pesannya, karena ia hanya ingin memastikan nomer Risa masih aktif atau enggak. Ternyata, nomernya masih aktif dan Risa membalas pesannya. Denis kaget bercampur senang, ternyata nomer Risa masih aktif. Tanpa banyak basa-basi ia langsung menanyakan kabar Risa. Sekalian ia juga ingin mengetahui apakah Risa masih bersikap dingin kepadanya atau tidak.
Sudah beberapa hari ini Denis kembali lagi dekat dengan Risa. Ternyata Risa sudah bisa merubah sifatnya. Sekarang, sifatnya gak dingin lagi pada Denis. Ia sama sekali belum pernah bertemu Risa setelah putus dulu. Sampai akhirnya, ia beraniin diri untuk mengajak Risa balikan lagi. Karena rasa sayang Denis pada Risa masih cukup besar. Tapi kali ini ia benar-benar ragu. Risa tahu kalo ia sudah memiliki pacar, namanya Pia. Denis juga sebenarnya sudah mengetahui, kalo Risa juga sudah memiliki pacar, namanya Wisnu. Tapi Denis tetap berusaha untuk mengajak Risa balikan. Tapi Risa tetap gak mau jika untuk balikan lagi. Oke, akhirnya Denis mutusin untuk backstreet menjalani hubungan dengan Risa. Hingga akhirnya, Risa pun mau menjalani itu.
“Yang, besok aku satu tahunan sama Wisnu. Kalo aku mutusin Wisnu malem ini, gimana?” ucap Risa di dalam pesan.
“Loh, kenapa mau putus?” jawab Denis bingung.
“Sebenernya dari dulu aku pengen mutusin dia, tapi karena waktunya gak pernah tepat, akhirnya ya aku tahan aja hubungan sama dia.”
“Aduh tapi jangan pas ada aku gini donk kamu mutusin dia nya. Aku jadi perusak hubungan kamu kalo gini caranya mah. Kamu tetep jalanin aja sama Wisnu ya?” Denis mencoba menahan Risa agar tidak mengakhiri hubungannya dengan Wisnu.
“Ih aku gak mau. Aku udah niat mau mutusin dia kok. Lagi juga kalo aku tetep jalanin, malah kasihan dia nya tau. Yg ada malah bertepuk sebelah tangan nanti cintanya.” Risa tetap tidak merubah pendiriannya. “Aku nya udah gak ada perasaan apa-apa sama dia. Jadi gpp ya kalo aku udahin hubungan aku sama dia?” tanya nya sekali lagi pada Denis.
“Kamu yakin sama keputusan kamu? Kalo emang kamu udah yakin, ya udah terserah kamu aja. Aku gak bisa larang kamu.” sahut Denis dengan penuh rasa bersalah.
Risa benar-benar memenuhi omongannya. Wisnu langsung diputusin malam itu juga. Denis jadi merasa sangat bersalah pada Wisnu.
“Apa kamu putus sama Wisnu gara-gara aku?” tanya Denis bingung.
“Ini bukan karena kamu yg udah dateng lagi ke hidup aku. Ini semua murni keinginan aku. Kamu tau gak kalo selama ini tuh Wisnu hanya obsesi pacaran sama aku.”
“Kamu tau dari mana kalo dia hanya obsesi pacaran sama kamu?” tanya Denis lagi semakin bingung.
“Aku tau dari temen-temen aku. Hampir semua temen-temen aku ngomong hal yg sama tentang Wisnu.”
“Huh, untunglah kalo bukan gue penyebab mereka putus.” Denis menghela nafas panjang. Ia jadi merasa lega setelah mendengarkan penjelasan Risa.
ῼ
Beberapa hari setelah Risa putus dengan Wisnu, Denis berniat untuk menjemput risa sepulang sekolah. Risa tidak menolak tawarannya. Denis janjian di depan SMP Risa yg dulu dan Risa pun setuju. Ini adalah saat yg paling ia nanti-nanti sebelumnya. Karena ini akan menjadi awal pertemuannya dengan Risa.
Setelah sampai disana, akhirnya Denis bisa melihat Risa lagi untuk yg pertama kalinya setelah satu tahun lost contact. Ia lihat Risa sangat berubah, sampai-sampai ia tidak mengenalinya. Kini Risa jadi tinggi, kulitnya putih, tubuhnya langsing, dan rambutnya ikal panjang. Pokoknya dia sangat cantik dan benar-benar berbeda dengan Risa yg dulu pernah Denis kenal. Ia benar-benar terpesona melihat Risa.
“Hei, kok bengong?” sentak Risa yg melihat Denis melongo.
“Eh, maap maap.” Denis langsung salah tingkah. “Ayo kita pulang, nanti keburu malem.” sambil merubah raut wajahnya yg tadi sempat salah tingkah akibat terlalu serius memperhatikan Risa dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Denis langsung mengantarnya pulang untuk yg pertama kalinya semenjak dulu pacaran saat SMP. Ia senang sekali akhirnya bisa juga mengantar Risa pulang kerumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, ia ngobrol-ngobrol dengan Risa. Ngobrolin cerita-cerita masa lalu sambil tertawa-tawa. Risa juga memeluknya selama diperjalanan. Itu adalah malam yg paling indah untuk Denis.
“Kamu mau mampir dulu gak?” tawar Risa saat sampai di depan rumahnya.
“Aduh, aku langsung pulang aja deh ya. Gak enak sama keluarga kamu.” tolak Denis dengan halus. “Tapi lain kali aku main deh.” lanjutnya agar Risa tidak terlalu kecewa karena tolakannya tadi.
“oh, ya udah deh. Makasih ya udah mau nganter aku pulang.” sambil tersenyum menatap Denis.
“Iya sama-sama. Aku pamit yah.” sambil membalas senyum Risa..
“Kamu hati-hati dijalannya ya, jangan ngebut-ngebut bawa motornya.”
“Oke.”
Selama perjalanan pulang, Denis membuka handphonenya. Ia lihat Pia mengirim banyak pesan karena pesannya tidak Denis balas. Di salah satu pesannya juga ada kata-kata kasar. Bahkan sampai segala macam nama binatang disebutkan oleh Pia. Denis sabar aja mendapat perlakuan seperti itu dari Pia karena ia sudah terbiasa. Kalo ia ikut-ikutan kasar, berarti sama aja ia seperti Pia dan tak ada bedanya. Kata-kata itu yg selalu menjadi patokan agar ia bisa tetap sabar menghadapi Pia. Pia memang seperti itu wataknya, keras kepala dan suka bicara seenaknya.
7.
Kesabaran Yang Membuahkan Hasil
Hari demi hari, Denis lewati bersama Risa. Ia selalu menjemput Risa setiap pulang sekolah. Ia selalu mengajaknya main setiap hari libur. Bahkan ia juga mengenalkan Risa pada orang tuanya. Denis sangat bahagia menjalani semua bersaman Risa dan Risa juga sebaliknya. Banyak laki-laki lain yg selalu mendekati Risa dan mencoba merebut hatinya. Tapi dia tetap setia dengan Denis walaupun Denis masih memiliki hubungan dengan Pia.
“Aku bakal setia nunggu kamu sampe putus sama pacar kamu. Aku gak akan ngebuka hati aku buat laki-laki lain.” ucap Risa pada Denis.
Denis sangat beruntung Risa memiliki sifat seperti itu. Tapi ia selalu bertanya dalam hati, kenapa Risa yg dulu gak seperti Risa yg sekarang? Kalo aja dari dulu Risa seperti ini, mungkin ia gak akan mau pergi jauh darinya.
Lama-kelamaan, banyak cobaan dan rintangan yg datang di dalam hubungannya dengan Risa. Cobaan dan rintangan terbanyak itu datang dari Pia. Pia telah mengetahui hubungannya dengan Risa. Sampai akhirnya Pia mengirim pesan yg sangat kasar pada Risa. Isi pesannya benar-benar membuat kesal dan sakit hati.
“Heh jablay! Ngapain lo ganggu hubungan gue sama cowo gue? Lo tau kan kalo Denis udah punya cewe? Jangan coba ganggu-ganggu hubungan gue deh, gue gak suka! Apa lo gak laku ya, jadi lo ganggu cowo orang? Dasar jablay!”
Setiap hari Risa harus menerima caci makian dari Pia. Tapi Risa selalu mencoba untuk tetap sabar menghadapi semua itu hanya demi Denis.
“Yang kamu sabar ya ngadepin masalah ini, aku selalu berusaha supaya bisa lepas dari Pia. Aku tau kok kalo kamu kuat ngadepin ini. Tenang aja yang, aku yakin kita bisa sama-sama tanpa ada orang yg harus ganggu-ganggu hubungan kita.” ucap Denis dalam pesar yg berusaha menguatkan Risa agar bisa kuat untuk menghadapi semua itu dan tetap sabar menjalani hubungan ini dengannya.
“Iya aku sabar kok yang. Biarin aja dia mau ngomong apa kek sama aku, aku gak peduli. Mending aku diemin aja kalo dia ngomong-ngomong kasar gitu. Nanti juga dia capek sendiri yang. Aku bakal tetep ngejalanin hubungan ini sama kamu apapun resikonya nanti. Aku harap kamu gak ngecewain aku yang. Kamu juga harus bertahan sama aku ya yang.” jawaban yg sangat luar biasa yg dilontarkan oleh Risa.
Hati Denis tak kuat menahan tangis, saat ia membaca pesan dari Risa. Ia salut dengan kata-kata yg di ucapkan Risa. Ia sangat bangga Risa bisa sedewasa itu. Sampai-sampai ia berjanji pada dirinya gak akan mengecewakan Risa lagi.
ῼ
Setelah hampir berbulan-bulan Pia mengganggu hubungannya dengan Risa. Setelah hampir berbulan-bulan Denis mencari cara agar bisa terlepas dari Pia. Akhirnya, Pia menyerah untuk mengganggu hubungannya dengan Risa. Denis sangat bahagia sungguh luar biasa. Akhirnya, kesabarannya dan Risa membuahkan hasil. Hubungannya pun resmi dengan Risa. Gak lagi backstreet. Denis berharap hubungan kali ini akan baik-baik saja tanpa ada pengganggu lagi.
Hubungannya dengan Risa kali ini benar-benar jauh berbeda dari yg dulu pernah ia jalani dengan Risa. Sekarang Risa jadi lebih perhatian dan selalu membuat Denis nyaman jika sedang bersama dengannya. Denis berharap akan terus seperti ini dan gak ada lagi masalah yg datang ke dalam hubungannya. Ia benar-benar sudah capek hati jika masalah kembali datang dan membuat hubungannya hancur. Ia juga gak mau kalo harus kehilangan Risa lagi. Sudah dua kali ia kehilangan Risa. Ia sungguh sangat menyayangi Risa.
8.
Bohong Demi Kamu
Gak kerasa sudah hampir tujuh bulan Denis menjalani hubungan dengan Risa. Susah senang mereka jalani berdua. Setiap tanggal jadian, ia dan Risa selalu merayakannya berdua. Entah itu makan di luar atau hanya melakukan intropeksi diri untuk hubungan yg selama ini mereka dijalani.
Baru pertama kali Denis merasakan indahnya pacaran setelah ia menjalani berdua bersama Risa. Walaupun sudah beberapa kali ia menjalin kasih dengan mantan-mantannya yg dulu, tapi ia gak pernah bisa sampai sebahagia dan senyaman saat bersama Risa.
Menjelang ulang tahun temannya, Mario. Semua teman-teman Denis di undang untuk merayakan ulang tahun sweet seventeennya. Mario mutusin untuk menyewa vila di daerah puncak dan disana akan menjadi tempat pestanya nanti.
Denis bermaksud mengajak Risa untuk menginap di vila selama dua hari. Ia meminta ijin Mario agar Risa dapat ikut ke pesta ulang tahunnya nanti. Mario pun mengijinkannya untuk mengajak Risa. Setelah mendapat ijin darinya, buru-buru Denis ngomong ke Risa dan mengajaknya untuk ikut ke pesta ulang tahun Mario di vila.
“Yang, sebentar lagi kan Mario ulang tahun. Rencananya, Mario mau nyewa Vila. Kamu mau gak ikut gabung?” ajak Denis pada Risa.
“Aku sih mau banget yang, tapi aku takut gak di ijinin sama orang tua aku. Tapi nanti aku usahain nyari alesan biar bisa ikut gabung ya. kamu doain aja supaya aku dapet ijin.”
Keesokan harinya Risa mengabarkan Denis tentang dapat atau tidaknya ijin dari orang tuanya.
“Yang, aku di ijinin.” ujar Risa dalam pesan.
“Yang bener kamu? Kamu bilangnya mau kemana?”
“Aku bilangnya ada acara di sekolah yg wajib ikut dan wajib nginep selama dua hari. Eh, langsung di ijinin deh.”
“Ya ampun yang, kenapa kamu sampe bohong gitu?” tanya Denis yg sedikit kecewa karena Risa telah membohongi orang tuanya.
“Abis mau gimana lagi. Kalo gak bilang gitu aku gak bakal mungkin di ijinin atuh. Ini juga kan demi kamu yang. Sekali-kali bohong mah gpp. Yang penting kan aku bisa ikut.” Risa kembali menjelaskan agar Denis tidak kecewa karena dia telah berbohong.
“Ya udah kalo gitu. Tapi kamu janji ya jangan pernah bohong lagi sama orang tua kamu.” Denis coba mengingatkannya.
“Iya iya janji deh.”
Denis sangat senang Risa bisa ikut, sampai-sampai rela untuk berbohong. Ia salut dengan pengorbanan yg sudah sering Risa lakukan untuknya.
“Yang, kalo aku ajak temen aku boleh gak?” tanya Risa.
“Emang kamu mau ajak siapa?”
“Aku mau ajak Witri. Soalnya aku bilang ke Papah, Witri ikut juga acara di sekolah.”
“Aku minta ijin dulu ya ke Mario.”
Kebetulan, Witri itu teman Denis waktu SMP dulu, jadi Denis dan teman-temannya sudah saling kenal dengan Witri. Ia langsung meminta ijin lagi ke Mario kalo Risa mau mengajak Witri untuk ikut menginap di vila. Mario pun gak ngelarang. Bahkan dia sangat senang Witri bisa ikut gabung untuk acaranya nanti.
“Yang, kata Mario gpp kok aja Witri, malah bagus.” ucap Denis.
“Oke deh yang. Makasih ya.” jawab Risa.
Witri emang cantik anaknya. Saat SMP dulu, dia sangat menjadi idola cowo-cowo, termasuk Mario. Jadi Mario gak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Teman-teman Denis juga ikut senang, setelah tau Risa bisa ikut gabung ke acara ulang tahun Mario nanti. Apa lagi ditambah Witri yg juga ikut gabung. Teman-temannya jadi tidak sabar untuk cepat-cepat merayakan ulang tahun Mario di vila nanti.
9.
Ciuman Pertama
Akhirnya, saat yg di tunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah satu hari menjelang hari ulang tahun Mario dan hari ini pula Denis, Risa dan teman-temannya akan berangkat ke vila. Sebelum berangkat ke vila, semuanya berkumpul dirumah Rama untuk menyiapkan makanan yg akan dibawa ke vila. Orang tua Rama juga ikut membantu menyiapkan makanan untuk anak-anak makan di vila nanti.
Setelah semua sudah siap, semua anak-anak meminta ijin kepada orang tua Rama. Kemudian berdoa agar gak terjadi apa-apa nantinya. Selesai ijin dan berdoa, mereka pun pamit dan langsung berangkat menuju vila. Denis, Risa dan teman-teman yg lain naik motor menuju ke vila, kecuali Mario yg membawa mobil. Rama, Vera, Sri, dan Witri ikut di mobil bersama Mario.
Sampai di vila, semua anak-anak merapihkan barangnya masing-masing. Setelah selesai merapihkan barang, semua sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada yg berenang, ada yg main bulu tangkis, ada juga yg main tenis meja. Fasilitas di vila cukup komplit. Dari vila juga terlihat pemandangan yg cukup indah. Selama berada di vila, Denis gak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk bisa berdua dengan Risa.
Sedang asik-asik berduaan, tiba-tiba Vera membuat suasana menjadi gak asik. Risa pun kesal melihat kelakuan Vera. Vera adalah pacar Rama setelah Rama putus dari Vitri. Vera ngomong yg gak ngenakin banget dan omongannya itu ditujukkan pada Denis, Yadi, Wira, Risa dan Witri. Karena omongan Vera itu, mereka berempat jadi kesal. Apalagi Risa dan Witri yg benar-benar tersinggung.
“Yang, mending kita jalan keluar yuk. Aku bete disini.” ucap Risa setelah Vera membuat suasana jadi gak asik.
“Tapi cuaca lagi mendung. Takutnya nanti kalo kita jalan keluar, malah turun ujan. Lagi juga aku gak enak sama anak-anak yg lain.” Tolak Denis dengan halus.
“Kalo gak mau ngomong aja! Gak usah pake alesan!” bentaknya.
Denis sangka Risa bisa ngertiin, tapi ternyata dia malah membentaknya. Sampai-sampai dia pergi dengan Witri dan malah mengajak Yadi dan Wira untuk jalan keluar. Dia pun pergi dengan temannya tanpa meminta ijin Denis terlebih dulu. Denis benar-benar kesal melihat kelakua Risa. Tapi fikirannya selalu memikirkan Risa. Untunglah banyak teman-temannya yg dapat membuat suasana jadi gak semakin parah.
Sehabis magrib, akhirnya dia pulang juga. Perasaan Denis agak tenang setelah melihat Risa kembali. Ia coba untuk ngobrol dengan Risa. Tapi Risa gak menghiraukan sedikitpun omongannya dan malah menghindar darinya. Risa masih kesal dengan kejadian tadi sore. Tapi Denis gak mau memperpanjang masalah disana.
Malam harinya, Vera memberi tahukan Denis, bahwa Risa sedang menangis dikamar gara-gara dia kembali mendapat sms maki-maki dari Pia. Denis buru-buru menemuinya di kamar. Ia lihat Risa sedang menangis. Ia coba menanyakan ada apa, tapi Risa masih tetap diam dan gak mau bicara sepatah kata pun dengannya.
“Mending kamu sekarang keluar deh dari sini! Keluar!” bentak Risa.
Denis di usir dari kamar dengan nada yg cukup keras yg keluar dari mulut Risa. Ia pun keluar dari kamar saat itu juga. Kali ini ia benar-benar kesal pada Risa. Tapi ia coba menyembunyikan perasaan kesalnya dari siapapun. Ia gak mau ikut-ikutan marah ke Risa karena nanti urusannya malah tambah panjang.
Akhirnya Denis meminta tolong pada temannya untuk membelikan minuman keras. Tujuannya meminum minuman keras itu, agar ia bisa lebih tenang dan gak kebawa emosi. Setelah tenang, ia beraniin diri lagi untuk bertemu Risa dikamarnya.
“Kenapa kamu nangis?” tanya Denis sambil mengelus-ngelus rambut Risa.
“Yang, aku gak mau ngomongin masalah kenapa aku nangis. Tolong ngertiin aku ya.” sambil mengelap air matanya.
Oke, buru-buru Denis mengganti topik pembicaraannya saat itu dengan harapan suasana bisa menjadi lebih baik.
“Aku minta maap ya tadi udah ngebentak kamu yang. Maaf banget.” Risa menatapnya dengan tatapan yg penuh penyesalan akibat perbuatannya.
“Iya gpp kok yang.” Denis langsung memeluknya erat. Pikirannya pun sangat tenang saat memeluknya.
Setiap Denis sedang berdua bersama Risa, ia selalu mengatakan kalo dirinya sangat menyayangi Risa. Ia gak pernah bosan untuk mengatakan sayang untuk Risa. Risa juga gak pernah bosan mendengarnya setiap ia mengatakan sayang kepadanya. Malah Risa bilang, dia seneng banget kalo selalu mendapat kata-kata itu dari Denis.
Sedang asik memeluknya, Risa mengajak Denis untuk keluar kamar. Risa mengajaknya ke kolam renang vila. Ia gak menolak ajakan Risa saat itu karena ia gak mau nanti suasana yg sudah tenang itu malah berubah lagi menjadi panas.
Di kolam renang, Denis bercanda dan tertawa bersama Risa. Ia bahagia banget bisa merasakan semua itu bersama Risa setelah banyak cobaan dan rintangan yg harus dilewati untuk hubungannya dengan Risa. Disitu Denis coba memberanikan diri mencium Risa untuk yg pertama kali. Risa sama sekali gak marah atau menghindar saat Denis mencoba mencium bibirnya. Risa malah senyum-senyum setelah Denis menciumnya.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?” tanya Denis bingung dan malu.
Risa tidak menjawab dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tersenyum menatap Denis, kemudian dia memeluk Denis erat. Ya ampun, ia benar-benar baru pertama kali merasakan indahnya pacaran setelah dirinya menjalani hubungan bersama Risa. Disitu, Denis berdoa agar hubungannya dengan Risa akan tetap baik-baik aja dan selalu bahagia tanpa ada rintangan dan cobaan lagi.
Saat sedang menikmati suasana berdua, Rama datang ke kolam renang dan memberi tahu kalo acara akan segera dimulai. Denis langsung bergegas kesana untuk melaksanakan acara tiup lilin sweet seventeennya Mario. Disitu, Risa masih tetap memegang tangan Denis dan sesekali memeluk dan mencium pipinya.
Setelah acara tiup lilin selesai, Mario pun di ceburkan ke kolam renang oleh teman-teman Denis. Selesai menyeburkan Mario, mereka semua memanggang ayam dan membakar jagung. Disana, semua anak-anak terlihat bahagia banget dan semua tertawa gembira. Risa juga terlihat ikut bahagia. Denis pun ikut bahagia melihat Risa bisa sebahagia itu.
Semua acara hari ulang tahun Mario sudah selesai. Mulai dari acara tiup lilin, potong kue, menyeburkan Mario ke kolam renang, memanggang ayam dan membakar jagung sampai akhirnya makan malam.
Semua teman-teman Denis terlihat sangat letih. Mereka pun memutuskan untuk tidur. Berhubung vila itu ada banyak kamar dan juga luas-luas banget, akhirnya semua anak-anak bermaksud untuk tidur bareng di satu kamar agar mereka bisa saling bercerita dan gak iseng.
Denis mengajak Risa untuk tidur bareng bersamanya. Risa pun gak menolak tawarannya. Selama tidur, ia terus memeluk Risa dan menciumnya. Baru pertama kali ia merasakan itu dan yg lebih bahagianya lagi, ia merasakan semua itu bersama orang yg benar-benar dia sayangi. Semua jadi lebih indah dan berkesan malam itu.
10.
Kamu Istimewa
Pagi-pagi banget Risa sudah bangun dan sudah mandi. Dia langsung membangunkan Denis dari tidurnya. Dia tahu bahwa Denis masih sangat letih akibat acara pesta semalam. Akhirnya, dia membangunkan Denis dengan cara yg baru pertama kali Denis rasakan.
“Selamat pagi sayang. Bangun hey. Udah pagi nih.” Risa mencium kening Denis sambil mengelus-ngelus rambut Denis.
Denis kaget ketika melihat Risa seperti itu. Ia menjawab salamnya dan mencium kembali di kening Risa. Ia langsung memeluk Risa erat.
“Mandi sana. Bau tau.” seru Risa sambil tertawa.
“Kamu udah mandi ya?”
“Udah donk. Makanya kamu mandi juga sana.”
“Oke deh.”
Selesai mandi, Denis mencari Risa dikamar ternyata sudah tidak ada. Setelah ia cari-cari, teryata Risa sedang berada di dapur.
“kamu lagi ngapain sayang?” Denis menghampirinya dan memeluk Risa dari belakang.
“ Ih kamu ngagetin aja. Aku lagi bikin susu buat kamu.” sambil tersenyum.
Langsung Denis memeluk dan menciumnya berkali-kali.
“Aku bahagia banget punya pacar kaya kamu. Udah romantis, sifatnya dewasa dan ke ibu-ibuan banget. Kamu istimewa banget buat aku. Ya walaupun kadang suka cuek bebek dan jutek sama aku, tapi aku tetep sayang kok ama kamu. I love you.” ucap Denis pada Risa.
“I love you too.” jawab Risa sambil mencubit hidung Denis.
Selesai membuatkan susu, mereka duduk di halaman vila sambil ngobrol dan bercanda.
Lagi asik berdua, Aga (pacarnya Witri) datang untuk menjemput Witri pulang. Aga sengaja datang karena Witri menyuruhnya menjemput ke vila. Witri pulang karena dia bilang ke orang tuanya hanya menginap satu hari. Witri ijin pulang hanya dengan Denis dan Risa, soalnya teman-temannya masih pada tidur dikamar. Witri bilang, gak enak jika membangunkan mereka yg sedang tertidur pulas. Setelah Witri dan Aga pulang, Denis kembali ngobrol lagi dengan Risa.
Hari mulai siang. Teman-teman Denis juga sudah mulai bangun satu persatu. Bangun tidur, mereka langsung membuat susu dan sarapan. Mereka pada mengeluh sakit badan akibat acara semalam. Selesai sarapan, mereka langsung berenang dan katanya sekalian mandi pagi. Tapi ada sebagian temannya yg berolahraga main badminton dan tenis meja.
Setelah cukup lama berenang dan berolahraga, mereka kelaparan. Mario langsung menelepon orang catering untuk mengantarkan makanan yg sudah di pesan dari hari-hari sebelum mereka di vila. Gak lama di telepon, orang catering pun datang membawa makanan yg sudah di pesan. Teman-teman Denis langsung menyambut makanan yg sudah di antar. Mereka langsung melahap makanannya masing-masing. Denis dan Risa juga ikut makan bersama mereka.
Selesai makan, semua anak-anak kumpul di kamar. Di kamar, anak-anak main kartu. Yg gak ikut main kartu, hanya bisa menjadi penonton setia. Di kamar, Denis memainkan gitar.
“Yang, ajarin aku main gitar donk?” pinta Risa.
Risa duduk di depan Denis dengan posisi yg membelakanginya. Denis mengajarkannya sambil memeluknya. Jika Risa salah kunci, Denis langsung tertawa dan memeluknya. Risa juga tertawa dan malu karena terus-menerus salah kunci. Tapi Denis tetap memberikan semangat agar Risa bisa hafal kunci gitar. Risa juga sangat bersemangat untuk bisa main gitar, walaupun Denis terus mentertawakannya, dia tetap gak perduli.
Gak kerasa hari sudah malam lagi. Sekarang, Denis, Risa dan teman-temannya berkumpul di ruang tamu sambil menonton tv dan ngobrol-ngrobrol. Semua anak-anak sedang membicarakan masa-masa saat SMP dulu. Sesekali tertawa karena cerita masa-masa SMP. Apalagi jika menceritakan tentang Dino, saat dulu mereka masih suka berkumpul di Studio band.
“Eh, lu inget gak kejadian Dino pas kita lagi nongkrong di Bumi? Bilangnya si mau boker, tapi pas di cek sama Endru pake kunci kamar mandi cadangan, ternyata dia lagi onani, hahaha.” seru Rama.
Dulu saat masih SMP, Dino selalu marah jika anak-anak bercerita tentang itu. Tapi sekarang dia sudah gak marah lagi. Malahan dia sampai tertawa jika ingat kejadian itu dan merasa malu.
Setelah tertawa puas, anak-anak merasakan lapar. Mereka mutusin untuk memasak makanan yg di beli kemarin. Ada yg masak mie, ada yg masak telor dan ada yg masak sosis nugget.
Saat Rama sedang memasak sosis, sosisnya gosong dan gak ada yg mau makan kecuali dirinya sendiri. Rama emang gak bisa masak. Tapi saat di vila dia ingin mencoba memasak dan hasil masakan yg di masaknya gosong.
Risa tiba-tiba membuatkan Denis mie rebus telur. Denis kaget saat Risa membuatkannya mie. Padahal ia tidak menyuruh Risa untuk memasakkan makanan.
Selesai mengacak-acak dapur, semua makan bersama di ruang tamu. Anak-anak saling mencicipi makanannya satu sama lain. Sampai terjadi keributan antara Dino dengan Wira. Tapi, gak lama kemudian mereka berdua langsung berdamai lagi. Semuanya kembali makan. Keadaan yg tadi ribut dan berisik, sekarang menjadi hening.
Selesai makan, anak-anak langsung mencuci piring yg habis dipakainya. Setelah selesai, mereka berkumpul di kamar sambil main kartu dan merokok.
Malem kedua ini, Denis tidur terpisah dan gak bareng lagi dengan Risa. Anak-anak cowok juga semua tidurnya terpisah dengan anak-anak cewek. Sebelum tidur, Denis mencium kening Risa kemudian meninggalkannya dia tidur. Vera dan Sri juga ikut tidur.
Dikamar cowok, anak-anak kembali lagi bermain kartu dan merokok. Semua anak cowok begadang dan dilarang tidur. Soalnya takut ada anak cewek yg nanti butuh bantuan.
“Bro, kita bikin perjanjian mau gak?” Tanya Mario pada anak-anak.
“Perjanjian apa nih, Yo?” sahut Rama.
“Kita bikin perjanjian gini, kalo misalkan kita ngecewain pacar-pacar kita, kita harus ngerelain dia pergi ninggalin kita meskipun kita cinta banget. Gimana?” ujar Mario.
“Waduh, terus cewe-cewe gue gimana nih, Yo?” komentar Dino yg khawatir kehilangan pacar-pacarnya.
“Ya, lo harus pilih satu dong No, dari sekian banyaknya cewe lo. Kalo lo gak mau ninggalin cewe-cewe lo yg udah lo sakitin, lo harus milih, temen atau pacar?” jawab Mario.
“Aduh, susah Yo. Masalahnya gue cinta semuanya nih. Gue sih jelas milih temen lah, Yo.” jelas Dino dengan nada yg memelas.
“Kalo lo mau milih temen, ya udah pilih satu aja dari sekian banyak cewe lo. Lo mau tau kenapa gue bikin perjanjian kaya gini? Kita itu udah gede Bro, mau sampe kapan kita maenin hati cewe terus, apa lagi elo, No. Gak ada puasnya maenin cewe. Karma berlaku Man.” ungkap Mario.
“Gue setuju, Yo sama lo.” sahut Rizal sambil berjabat tangan dan tersenyum pada Mario.
“Gue juga setuju.” serentak Rama, Denis, Yadi, dan Wira menyetujui perjanjian itu sambil berjabatan tangan.
“Tuh, No. Yg lain udah pada setuju nih, tinggal lo doang. Gimana?” tanya Mario sambil melirik Dino.
Dino berpikir-pikir cukup lama. Nampak wajahnya berubah menjadi memelas. Dia berpikir keras, siapakah wanita yg harus dipilihnya. Dia takut salah memilih pacar dan malah menyesal nantinya. Ia mengusap-usap mukanya kemudian menarik nafas yg panjang.
“Oke, gue setuju sama kalian semua.” Sentak Dino pada anak-anak yg sedang menunggunya berpikir lama.
“Nah gitu dong. Mulai besok, lo putusin cewe lo satu-satu dan lo pilih satu cewe aja yg menurut lo itu cewe terbaik.” sahut Mario. “Deal nih ya perjanjian ini ya?” tanya Mario.
“Oke, deal.” Serentak anak-anak menjawab.
Saat adzan subuh berkumandang, mereka pun langsung tewas satu persatu. Mereka tidak kuat menahan rasa ngantuk yg di tahannya. Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol, mereka memutuskan untuk tidur.
11.
Aku Masih Rindu
Pagi-pagi, Risa kembali membangunkan Denis dari tidurnya. Ia mencium wangi tubuh Risa yg benar-benar tercium sewaktu ia sedang tidur.
“Selamat pagi sayang.” Lagi-lagi Risa mencium keningnya, mengelus-ngelus rambutnya dan mengucapkan selamat pagi untuknya.
Denis senang sekali setiap kali Risa membangunkannya tidur. Denis ingin Risa menjadi orang yg pertama ia lihat saat ia terbangun dari tidurnya.
Gak kerasa sudah dua hari Denis menjalani hidup bersama Risa di vila. Dua hari itu masih benar-benar terasa kurang puas untuknya bersama Risa. Risa juga merasakan hal yg Denis rasakan.
Hari ini saatnya check out dari vila. Denis, Risa dan teman-temannya, masih betah dan masih belom mau check out dari vila. Tapi apa boleh buat, walaupun masih betah tetap mereka harus tetap check out. Karena nanti siang sudah ada yg mau check in lagi ke vila. Sebelum check out dari vila, Mario mengajak untuk main ke curug yg lokasinya gak jauh dari vila. Anak-anak pun setuju dan langsung berangkat ke curug.
Denis gak buang-buang waktu sama sekali saat di vila. Ia selalu menghabiskan waktunya hanya berdua bersama Risa walaupun gak setiap saat. Kalo ada kesempatan untuk berdua, Denis gak pernah menyia-nyiakannya.
Sampai di curug, anak-anak langsung mandi karena belum mandi pagi hari tadi. Saat di dalam air, semua kedinginan karena memang air dicurug itu terkenal dinginnya.
“Yang, kita ikut anak-anak mandi yuk? Masa kita Cuma ngeliatin doang si.” ucap Risa sambil menarik-narik tangan Denis.
“Hah? Kamu serius nih?” sahut Denis kaget.
“Ya serius lah yang, masa becanda si. Kenapa si? Emang ada yg aneh ya?”
“Iya ada yg aneh. Tumben banget kamu kaya gini.” sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Gini loh sayang, aku mau hari ini jadi hari yg sangat special buat aku. Ini juga kan hari terakhir kita di vila, jadi biar kita punya kenang-kenangan nantinya.” Risa coba menjelaskan.
Saat sedang mandi di bawah air terjun, Risa meminta tolong Rizal untuk memfoto mereka berdua. Risa ingin memiliki kenangan manis saat itu. Setelah selesai mandi, mereka semua langsung balik lagi ke vila.
Sampai di vila, Denis, Risa dan teman-temannya langsung packing barang-barangnya dan siap-siap untuk check out. Setelah mereka semua sudah selesai packing, mereka langsung check out. Rama, Vera dan Sri kembali lagi naik di mobil Mario. Sedangkan Denis, Risa, Wira, Yadi, Rizal, dan Dino naik motor. Semua barang-barang mereka di titipkan di mobil Mario.
Sepanjang perjalanan pulang, Risa memeluk Denis dan sama sekali gak melepaskan pelukannya. Sebelum mengantar pulang kerumah Risa, Denis mampir dulu kerumah Rama untuk mengambil barang-barangnya yg ia titipkan di mobil Mario.
Sampai dirumah Rama, Risa langsung ganti baju dan kembali lagi memakai baju sekolahnya. Agar nanti saat sampai rumahnya, Bokapnya percaya kalo dia benar-benar habis mengadakan acara disekolah. Setelah itu, Denis langsung mengantarnya pulang.
“Yang, makasih banget ya selama dua hari di vila kamu bikin aku seneng terus. Maafin salah aku ya waktu aku marah-marah sama kamu.” sambil memeluk Denis.
“Iya, sama-sama yang. Aku juga seneng banget bisa sama kamu selama dua hari di vila. Masalah yg kamu marah mah gak usah di bahas lagi ya.”
“Tapi aku masih kangen banget sama kamu yang. Kayanya dua hari kemarin gak kerasa banget deh. Masih kurang lama yang.”
“Iya, aku juga masih kangen banget sama kamu. Sebenernya aku gak mau nih psah sama kamu. Besok gak ada lagi deh yg bangunin aku tidur sambil di cium, hehe.”
“Ah kamu mah, jangan bikin aku sedih dong yang.” Risa memukul bahuku. “Besok juga aku gak bisa liat kamu tidur lagi deh.”
“Haha, aku gak bikin kamu sedih kok. Ya udah, dua hari kemarin kita jadiin pelajaran aja buat nanti kita kalo udah nikah ya yang, haha.”
“Woo, masih lama tau. Nunggu 7 tahun lagi. Aku kan mau nikahnya umur 25 yang. Aku gak mau nikah muda. Lagi juga aku masih mau ngewujudin cita-cita aku.”
“Iya, aku juga gak mau lah nikah muda. Nunggu aku mapan dulu, baru deh aku lamar kamu. Kan nanti kamu bakal jadi tanggung jawab aku.”
“Bener loh ya langsung ngelamar kalo udah mapan. Awas aja kalo bohong, bisul tujuh tingkat di pantat ya?”
“Wih, bisul aku bisa jadi apartemen dong yang kalo tujuh tingkat mah, haha.”
“Ih kamu mah.”
Setelah ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan, akhirnya sampai juga. Tapi Risa meminta turun di depan gang, karena takut nanti Bokapnya curiga kalo Denis mengantarnya sampai kerumah. Sebelum Denis pamit pulang, Risa menciumnya. Sebenarnya, Denis gak mau pisah dengan Risa saat itu, karena ia benar-benar masih merindukan Risa. Walaupun sudah berada di vila bersamanya. Rasanya, dua hari itu masih belom cukup untuk Denis.
12.
Muka Kita Mirip
Gak kerasa sudah hampir 8 bulan Denis menjalani hubungan dengan Risa. Tak pernah ia merasakan yg namanya pertengkaran ataupun sejenisnya yg bisa menghancurkan hubungannya. Yg ia rasakan selama bersama Risa hanya kesenangan dan kegembiraan. Hubungan itu benar-benar membuat Denis nyaman.
“Yang, jemput aku ya? Aku takut kemaleman nih sampe rumahnya.” Ucap Risa di telpon.
“Oke, siap.”
Saat sore hari menjelang buka puasa, Risa meminta Denis untuk menjemputnya disekolah. Denis langsung bersiap menjemputnya karena takut Risa menunggu. Ketika sampai di depan sekolahnya, Risa langsung pamit dengan teman-temannya yg sedang berjalan bersamanya.
Diperjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun deras. Denis langsung mencari pom bensin untuk berteduh sekalian untuk mengisi bensin. Ketika sedang berteduh, Denis sempat bercanda pada Risa.
“Yang, hari ini aku buka puasa dirumah kamu ya. Soalnya kalo aku buka puasa dirumah kayanya gak bakal keburu deh. Boleh gak?” ucap Denis sambil mengelap jaketnya yg basah.
Risa hanya senyum saat Denis mengatakan itu. Ternyata, tanpa sepengetahuan Denis, Risa langsung menelpon Nyokapnya dan bilang kalo Denis ingin datang dan ingin buka puasa dirumahnya. Risa menganggapnya omongan Denis itu serius, padahal Denis hanya bercanda. Akhirnya tanpa persiapan apa-apa Denis menuhin omongannya untuk buka puasa dirumah Risa bersama dengan keluarga Risa.
Kesan pertama kerumah Risa sangat buruk. Denis basah kuyup karena hujan-hujanan, ia hanya memakai boxer, dan motornya pun kotor penuh dengan tanah. Pokoknya itu adalah persiapan yg sangat buruk yg pernah Denis alami.
Waktu adzan magrib pun tiba. Semua keluarga Risa langsung berkumpul di meja makan dan Risa menyuruh Denis untuk ikut gabung bersama keuarganya. Saat makan di meja makan dengan keluarga Risa, muka Denis sangat pucat dan keringat dingin pun mengucur deras. Kalo kata Risa, muka Denis saat itu sangat mirip dengan ayam yg sedang sakit. Risa malah senyum dan ketawa-tawa melihat Denis seperti itu.
Banyak pertanyaan yg diluncurkan kaka-kaka Risa untuk Denis. Nanya rumahnya dimana, sekolah dimana, sudah kenal berapa lama sama Risa dan masih banyak lagi pertanyaan nya.
Saat waktu adzan isya berkumandang, Denis pamit pulang ke orang tua Risa dan juga kaka-kakanya.
“kamu hati-hati ya dijalannya, jangan suka kebut-kebutan”. Ujar Bokap Risa saat Denis pamit.
Denis kaget mendengar omongan Bokapnya Risa. Soalnya Bokapnya Risa mukanya sangar banget dan kelihatannya galak. Tapi ternyata Bokapnya orangnya asik dan baik. Setelah pamit sama keluarganya, Denis langsung meluncur pulang.
Setelah pulang dari rumah Risa, Risa langsung sms Denis.
“Yang kata teteh aku, kamu cakep. Terus dia juga bilang kalo muka kita mirip.” seru Risa dalam pesan.
Saat membaca sms itu, Denis sangat senang sambil ketawa–tawa. Denis berharap, mudah-mudahan hubungannya dengan Risa bisa mendapat restu dan dukungan dari keluarga Risa.
13.
Malam Takbir
Gak kerasa sudah malam takbiran dan Denis gak ada niat untuk bisa berdua sama Risa atau untuk datang kerumahnya. Karena ia sudah memiliki rencana untuk manggang ayam dirumahnya bersama teman-temannya. Ia sudah coba untuk mengajak Risa, tapi Risa bilang dia tidak bisa ikut karena pasti gak akan di ijinin oleh orang tuanya.
Denis menunggu teman-temannya sudah hampir 2 jam. Padahal janjian jam 7 malam harus sudah kumpul, tapi sampai jam setengah 9 malam sama sekali belum ada yg datang dan di sms pun gak ada yg balas. Akhirnya, Denis menganggap rencana untuk manggang gak jadi atau gagal.
Denis langsung sms Risa dan bilang kalo ia mau datang kerumahnya. Risa pun mengijinkan Denis untuk datang kerumahnya walaupun sudah cukup malam. Oke akhirnya Denis berangkat kesana dengan Wira, Dino dan Nina. Nina addalah pacar Dino saat itu.
Denis sampai dirumah Risa kurang lebih jam setengah 10 malam. Ia panik dan takut di marahi oleh orang tua Risa karena bertamu kerumah Risa malam-malam. Tapi ternyata pikirannya salah, orang tua Risa tidak memarahinya. Malah mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan kue-kue.
Disitu, Denis ngobrol-ngobrol dengan Risa. Dino dan Nina juga numpang pacaran dirumah Risa. Sedangkan Wira hanya memakan kue yg disuguhkan dan menjadi penonton setia orang-orang yg sedang pacaran.
“Buset nih bocah makan mulu kerjanya ya. Abis dah kue buat lebaran besok kalo lo disininya lama mah.” celetuk Denis pada Wira.
“Ih, biarin napa yang. Kamu mah ih, dasar.” Sahut Risa sambil memukul bahu Denis.
“Udah biarin aja dah, dari pada dia ngeliatin kita pacaran doang kan kasihan. Mending disuruh makan aja biar kenyang dan diem gak banyak ngomong.” Komentar Dino.
“Yg pacaran mah pacaran aja dah, gue mah cukup jadi penonton setia aja.” sahut Wira memelas.
Ketika sudah lama-lama Denis ngobrol-ngobrol dengan Risa, gak kerasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Denis langsung kaget saat melihat jam.
“Yang, aku pulang ya? Gak enak nih sama keluarga kamu, aku main sampe malem gini.” ucap Denis sambil memakai jaket.
“Ya udah deh.” Sahut Risa.
“Oh iya, doain aku ya yang supaya besok selamat sampe ke kampung halaman.” Denis keesokan harinya berniat untuk mudik lebaran bersama orang tuanya.
“Iya aku doain kok. Kamu jangan lama-lama ya mudiknya yang.” Ucap Risa sambil mengelus-elus pipi Denis.
“Iya tenang aja ya sayang.” sambil mencubit hidung Risa.
Saat Denis pamit pulang dengan Bokap Risa, ia malah disuruh pulangnya nanti soalnya masih sore kata Bokapnya. Denis tersenyum saaat mendengar omongan Bokapnya Risa tadi.
“Jam 12 aja dibilang masih sore.” seru Denis dalam hati.
Akhirnya, Bokapnya ngijinin Denis untuk pulang.
Sampai dirumah Denis jam 1 malam. Ia langsung mencuci motornya karena besok pagi ia mau langsung berangkat ke kampung halamannya untuk mudik bersama keluarganya.
14.
Maafkan Aku
Hampir 1 bulan Denis gak pernah ketemu Risa. Risa bilang, biar nanti malam tahun baru aja ketemunya dan biar bisa kangen-kangenan. Denis pun setuju dengan keputusan Risa.
Akhirnya malam tahun baru pun tiba.
“Yang, mau pake pakaian yg mana malem ini?” tanya Risa pada Denis.
“Aku gak tau yang mau pake yg mana. Kenapa emang?”
“Ya udah, kamu pake baju putih aja, terus pake celana jeans yg sedengkul ya?”
“Emang kenapa yang?” tanya Denis bingung.
“Aku suka aja lihat kamu pake pakaian kaya gitu dan aku mau malam tahun baru ini bakal jadi malam yg paling special buat aku. Kamu mau gak pake pakaian kaya gitu?”
“Ya udah nanti aku pake pakaian itu deh.”
Risa sangat menyukai jika melihat Denis memakai celana jeans pendek dan memakai baju putih.
Denis dan Risa mengadakan tahun baru bersama dengan semua teman-teman Denis dirumah Mario. Rama, Dino, Yadi, Wira, Rizal, Vera, Nina, dan Putri pun turut hadir di acara malam tahun baru yg di adakan Mario dirumahnya.
Ternyata malam itu bukan kebahagiaan yg Risa dapatkan, tapi malah kesedihan, sakit hati dan hingga tangisan. Itu semua gara-gara ulah Denis yg kembali lagi menghubungi Pia. Sampai akhirnya Pia menghancurkan kebahagiaan Denis dengan Risa malam itu.
“Kamu kenapa ngecewain aku malem ini?! Kamu tau kan malem ini tuh malem yg paling aku tunggu-tunggu buat ketemu kamu!” sentak Risa pada Denis sambil menangis menatap Denis. “satu bulan kita gak ketemu yang! Sekalinya ketemu kamu malah giniin aku!” lanjut Risa, lalu meninggalkan Denis.
Setelah Risa pergi, Denis hanya diam tanpa kata. Dia sangat menyesali perbuatannya pada Risa. Kemudian Mario datang.
“Lo ada-ada aja dah pake balik lagi ngehubungin si Pia! Suka nyari penyakit aja lo mah, Den! Lo gak inget janji kita sama anak-anak waktu di vila?! Kita udah janji Den, gak akan ngecewain perempuan!” Mario mencoba mengingatkan Denis. “Lo tau apa akibatnya kalo janji itu diingkarin? Lo harus tinggalin Risa!” bentak Mario.
Denis langsung kaget saat mendengar penjelasan Mario. Ia baru ingat janjinya di vila waktu itu. Air matanya jatuh tak tertahan.
“Tapi gue sayang sama Risa Yo, gue gak mau ninggalin dia.” sahut Denis.
“Kalo sayang kenapa harus ngecewain dia?! Apa itu yg namanya sayang?! Pokoknya lo harus tepatin janji waktu itu. Lo harus tinggalin dia. Lo harus inget kejadian yg nimpah Din dulu. Dia aja ngerelain cewe-cewenya demi pertemanan kita. Lo mau di kucilin sama Dino dan anak-anak? Kesalahan ini lo sendiri yg buat, Den”
“Yo, plis kasih gue kesempatan sekali lagi?” Denis menangis tersedu-sedu sambil memohon pada Mario agar dapat memberinya kesempatan yg kedua.
“ Sorry, Den, gue cuma mau berlaku adil aja. Dino dulu gue paksa buat ninggalin cewe-cewenya, dan sekarang lo juga bakal gue paksa buat ninggalin Risa. Lo pilih temen atau pacar?” tanya Mario. “Kalo lo mau pilih pacar, jangan harap gue dan anak-anak mau bergaul lagi sama lo?!” lalu Mario pergi meninggalkannya.
Denis kembali lagi diam dan menangis setelah harus menerima konsekuensi dari janjinya bersama teman-temannya dulu. Ia ingin teriak sekencang-kencangnya agar semua orang tahu bahwa dirinya sangat menyesal.
ῼ
Pagi-pagi sekali Risa sudah bangun. Ia langsung membangunkan Denis yg sedang tertidur pulas.
“Heh, bangun. Mau anter aku pulang gak?” tanya Risa sinis.
Denis hanya menganggukan kepala sambil mengucek matanya. Matanya bengkak dan merah akibat dari tangisannya semalam yg gak berhenti. Mukanya pucat, tubuhnya lemas tak bergairah. Otaknya pun masih memikirkan kejadian semalam.
“Yang, plis maafin aku.” pinta Denis.
Risa tak menjawab permohonan maaf Denis. Dia sama sekali tidak menghiraukan Denis yg daritadi meminta maaf padanya.
Denis tahu Risa masih sakit hati dan sangat kecewa padanya. Ia tak tahu apa yg harus dilakukan agar Risa mau kembali lagi bicara padanya.
15.
Aku Merasakan Kamu Ada
Bulan Januari adalah bulan yg sangat mereka tungu-tunggu. Mereka berencana untuk merayakan hari jadinya hubungan mereka yg usianya telah mencapai satu tahun. Tapi bulan itu hanya bisa mereka rangkai tanpa mereka adakan.
Setelah acara tahun baru, Denis dengan sangat terpaksa memutuskan hubungannya dengan Risa, karena teman-temannya memaksa Denis untuk mutusin Risa saat itu juga. Denis menangis saat harus menerima kenyataan itu.
Teman-temannya sengaja menyuruhnya meninggalkan Risa, karena dulu Denis dan teman-temannya telah berjanji gak akan pernah lagi menyakiti atau mengecewakan perempuan. Jika ada salah satu anak yg melanggar janjinya, maka ia harus meninggalkan pacarnya meskipun sangat mencintainya. Jika tidak mau meninggalkan pacarnya, maka ia harus meninggalkan teman-temannya. Mungkin itu adalah pilihan yg sangat berat yg di dapatkan Denis karena kebodohannya menghubungi Pia lagi. Ia sangat mencintai Risa dan ia juga sangat mencintai teman-temannya. Tapi ia harus memilih, apakah teman atau pacar.
Akhirnya, kembali lagi putus hubungan antara Denis dengan Risa. Tapi tak pernah sedikit pun Denis bisa menghilangkan rasa sayangnya yg sangat besar untuk Risa. Sampai-sampai ia menutup hatinya untuk perempuan lain.
Hari-hari yg dijalani Denis, terasa sangat berat. Apalagi kini dirinya takkan lagi mendapatkan kabar dari Risa. Denis terus berusaha bagaimana pun caranya untuk tetap bisa berhubungan dengan Risa tanpa sepengetahuan teman-temannya, meskipun hanya lewat sms. Denis menganggap dirinya gak pernah mutusin Risa dan gak pernah sama sekali putus dengan Risa sampai saat ini. Denis gak bisa membohongi perasaannya, kalo ia memang benar-benar menyayangi Risa.
Denis terus berkomunikasi dan terus berhubungan dengan Risa apapun caranya dan apapun resikonya ia gak pernah peduli. Ia harus bisa berkorban seperti hal nya Risa yg dulu selalu berkorban untuknya.
Menjelang ulang tahun Denis, Risa memberikan kado yg mungkin itu adalah kado terakhir darinya yg ia berikan pada Denis. Ia memberikan tas yg sangat bagus.
Kemanapun Denis pergi, tas itu selalu dibawanya. Ia sangat menyayangi tas pemberian Risa. Ia pun selalu menjaga dan merawatnya. Ia merasakan Risa selalu ikut bersamanya jika ia pergi membawa tas itu. Terasa Risa memeluknya jika ia memakai tas itu.
16.
I Love You Till The End
Sekarang cerita cinta Denis dan Risa tinggal keping-keping kenangan yg hanya bisa di ingat dan dikenang. Tapi gak akan pernah bisa di ulangi lagi untuk yg kesekian kalinya. Namun rasa sayang dan cinta Denis gak akan pernah bisa di hilangkan untuk Risa, karena Risa benar-benar sangat berarti untuk hidupnya dan penyemangat hari-hari yg ia jalani.
Saat ini Denis harus bisa menerima kenyataan kalo Risa bukan lagi miliknya. Ia harus bisa menjalani semuanya tanpa ada Risa lagi di kehidupannya. Walaupun terasa sangat berat hari-harinya tanpa Risa.
Risa adalah wanita terindah dan teristimewa yg pernah Denis miliki dari semua wanita-wanita yg pernah singgah di hati Denis. Kini wanita itu pergi dan Denis harus tetap menjalani hidupnya sendiri tanpa cintanya.
“Risa Damayanti, I never open my heart for someone else. i will always love you and my love just for you. i love you till the end.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar